Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Sentuh Level Terlemah Sepanjang Masa

Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Sentuh Level Terlemah Sepanjang Masa

AUTONEWS – Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali terpuruk dan menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (12/5/2026), menandai posisi terlemah sepanjang sejarah mata uang Garuda.

Berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka di posisi Rp17.479 per dolar AS pada pagi hari, melemah 0,37 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.414 per dolar AS. Pada pukul 10.03 WIB, rupiah tercatat berada di posisi Rp17.505 per dolar AS atau melemah 0,57 persen, menembus level psikologis baru di Rp17.500 per dolar AS. Posisi ini membuat rupiah menyentuh level paling lemah sepanjang masa secara intraday.

Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penurunan paling besar setelah anjlok 0,82 persen, diikuti peso Filipina yang melemah 0,49 persen. Sementara itu, baht Thailand turun 0,18 persen, yen Jepang melemah 0,24 persen, dan ringgit Malaysia mengalami penurunan sebesar 0,2 persen terhadap greenback.

Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik. “Rupiah terus mengalami pelemahan. Yang menyebabkan Rupiah mengalami pelemahan yang cukup signifikan ada beberapa faktor. Pertama adalah faktor eksternal, yang kedua adalah faktor internal,” kata Ibrahim. Ia menjelaskan ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kepanikan pasar global setelah Amerika Serikat menolak proposal Iran, sehingga memicu ketidakpastian di kawasan Selat Hormuz. Akibatnya, harga minyak kembali melonjak 1 persen dan indeks dolar AS menguat ke level 98.

Dari sisi domestik, pelaku pasar tengah menanti keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait evaluasi pasar saham Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026. Kekhawatiran muncul karena adanya potensi penurunan peringkat maupun keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks global tersebut. Sentimen MSCI menjadi salah satu faktor yang membuat investor asing cenderung menahan diri dan memilih keluar dari aset berisiko di Indonesia. Kondisi ini diperparah dengan posisi cadangan devisa per April 2026 yang jatuh ke titik terendah dalam periode dua tahun terakhir, mencerminkan rapuhnya benteng pertahanan eksternal ekonomi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *