JAKARTA, – Gelanggang news menjadi sorotan seiring perhatian dunia terhadap fenomena percepatan rotasi Bumi yang kini tengah diamati para ilmuwan. Fenomena langka ini diprediksi berlangsung hingga Agustus 2025 dan bisa berdampak pada sistem waktu global.
Secara umum, Bumi memerlukan waktu 24 jam untuk satu rotasi penuh. Namun, pengamatan terbaru menunjukkan bahwa hari-hari menjadi sedikit lebih singkat, dengan rekor hari terpendek tercatat dalam beberapa tahun terakhir.
Para ahli menduga percepatan ini dipicu oleh beberapa faktor: pergeseran massa akibat pencairan es kutub, gempa besar, dinamika inti Bumi, hingga perubahan atmosfer dan iklim global. Meski tidak terasa oleh manusia, konsekuensinya bisa merembet ke sistem penanggalan dunia.
Salah satu dampak potensial adalah pengurangan detik kabisat (negative leap second), sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Biasanya, detik kabisat ditambahkan untuk menyesuaikan rotasi Bumi dengan waktu atomik. Kini, tren justru berbalik.
Otoritas waktu internasional seperti IERS (International Earth Rotation and Reference Systems Service) sedang memantau fenomena ini secara ketat. Jika diperlukan, penyesuaian waktu akan diumumkan agar sinkronisasi sistem digital dan navigasi global tetap presisi.
Fenomena ini jadi pengingat bahwa Bumi bukanlah benda mati. Ia terus berubah, dan ilmu pengetahuan wajib tetap waspada.
Informasi lebih lanjut: gelanggangnews.com

