NASA Luncurkan Misi Artemis II: Era Baru Kembalinya Manusia ke Bulan Setelah 53 Tahun

GelanggangNews – Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) meluncurkan misi berawak pertama ke Bulan dalam lebih dari setengah abad pada Rabu (1/4/2026). Misi bertajuk Artemis II ini menandai kembalinya manusia ke orbit satelit alami Bumi tersebut sejak berakhirnya era Apollo pada 1970-an.

Misi yang dijadwalkan berlangsung selama 10 hari ini akan membawa empat astronot melaju lebih jauh ke kedalaman ruang angkasa dibandingkan siapa pun sebelumnya. Meski tidak mendarat di permukaan, kru akan mengelilingi Bulan untuk mempersiapkan landasan bagi pendaratan manusia di masa depan.

Drama Masalah Teknis Sebelum Lepas Landas

Dikutip dari BBC News, peluncuran yang dilakukan pada pukul 18.35 CDT di Kennedy Space Center ini sempat diwarnai ketegangan. Masalah teknis pada sistem penghentian penerbangan (flight termination system) dan baterai pada Sistem Pembatalan Peluncuran (Launch Abort System) memaksa teknisi NASA bekerja ekstra sebelum lepas landas.

Sebelumnya, jadwal peluncuran juga sempat tertunda beberapa kali. Pada Februari lalu, uji coba wet dress rehearsal terhenti akibat kebocoran bahan bakar hidrogen. Sementara itu, rencana peluncuran pada Maret juga batal karena ditemukannya kebocoran helium. Namun, semua kendala tersebut berhasil diatasi.

Sesaat sebelum roket Space Launch System (SLS) meluncur, pesan haru terdengar dari dalam kapsul Orion. “Kami pergi demi seluruh umat manusia,” ujar spesialis misi Jeremy Hansen, astronot asal Kanada yang mencetak sejarah sebagai warga Kanada pertama yang melakukan perjalanan ke Bulan.

Menembus Batas Atmosfer

Sorak-sorai penonton pecah saat pendorong roket ganda terpisah setelah membantu roket mencapai kecepatan lebih dari 16.100 km/jam. Begitu memasuki lapisan atmosfer atas, komandan pesawat ruang angkasa, Reid Wiseman, melaporkan pemandangan yang luar biasa.

“Pemandangan yang hebat,” lapor Wiseman saat kru resmi memasuki orbit setelah melewati garis Kármán—batas antara atmosfer Bumi dan ruang angkasa. Meski peluncuran sukses, kru sempat menghadapi masalah komunikasi singkat dan kendala pada sistem toilet yang kini telah diperbaiki.

Uji Coba di Ruang Angkasa Dalam

Selama misi ini, keempat astronot—Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen—memiliki tugas krusial. Mereka akan menguji kendali manual kapsul Orion di orbit Bumi sebagai latihan untuk pendaratan di Bulan di masa depan. Selanjutnya, mereka akan menuju titik ribuan kilometer melintasi Bulan untuk memeriksa sistem pendukung kehidupan, propulsi, daya, dan navigasi.

Para kru juga menjadi subjek uji medis dengan mengirimkan data dan gambar dari ruang angkasa dalam, di mana tingkat radiasi lebih tinggi dibandingkan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Langkah Menuju Pangkalan Permanen

Misi Artemis II merupakan batu loncatan bagi misi Artemis IV pada 2028, yang ditargetkan untuk mendaratkan astronot di kutub selatan Bulan. Sebelum itu, NASA merencanakan misi Artemis III pada 2027 sebagai ajang uji coba baju ruang angkasa baru dan prosedur dok (docking) dengan kendaraan pendarat komersial seperti Starship milik SpaceX atau buatan Blue Origin milik Jeff Bezos.

Berbeda dengan program Apollo yang bertujuan menegaskan dominasi teknologi di masa Perang Dingin, program Artemis dirancang untuk kehadiran manusia jangka panjang di Bulan melalui kemitraan komersial. Langkah NASA ini juga diikuti oleh ambisi negara lain; China menargetkan pendaratan di kutub selatan Bulan pada 2030, sementara Rusia dan India juga memiliki rencana serupa.

Misi Artemis II akan diakhiri dengan kepulangan yang menantang melalui atmosfer Bumi sebelum melakukan splashdown (pendaratan di air) di Samudra Pasifik, lepas pantai barat Amerika Serikat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *