GelanggangNews- Bank Indonesia mengakui bahwa proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) ikut memengaruhi tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, di tengah kondisi pasar yang sensitif dan ketidakpastian global. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers terkait dinamika nilai tukar menjelang akhir pekan ini.
Menurut Perry, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level mendekati Rp 17.000 per dolar AS bukan hanya disebabkan oleh faktor eksternal seperti aliran keluar modal asing atau permintaan valas korporasi besar. Ia menegaskan bahwa “persepsi pasar terhadap proses pencalonan Deputi Gubernur BI” termasuk faktor domestik yang memberi tekanan pada rupiah.
Dalam daftar tiga calon yang diusulkan untuk mengisi posisi Deputi Gubernur BI, salah satunya adalah Thomas Djiwandono, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dan diketahui sebagai keponakan Presiden Prabowo Subianto. Keputusan mencalonkan Thomas memicu kekhawatiran di kalangan investor tentang kemungkinan erosi independensi Bank Indonesia, meskipun pemerintah dan BI telah berulang kali menegaskan bahwa proses ini sesuai dengan aturan yang berlaku.
Perry menekankan bahwa seluruh tahapan pencalonan dilakukan sesuai undang-undang dan tidak mengganggu pelaksanaan tugas serta kewenangan Bank Indonesia yang profesional. Ia juga memastikan bahwa BI akan tetap menjalankan kebijakan moneter secara independen dan menjaga stabilitas ekonomi.
Meski demikian, kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa sentimen negatif terhadap pencalonan dan persepsi risiko domestik turut berkontribusi pada tekanan nilai tukar. Hal ini terjadi bersamaan dengan dinamika pasar global dan kebutuhan valuta asing yang meningkat di beberapa sektor.
Perry meyakini bahwa kepercayaan pasar akan kembali pulih seiring dengan penegasan independensi BI dan respon kebijakan yang tepat guna mendukung stabilitas makroekonomi.
Baca berita ekonomi dan kebijakan moneter lainnya di:
👉 https://gelanggangnews.com/













