Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Viral Kebijakan Tes Kehamilan Wajib untuk Siswi di SMA Cianjur, Kemenkes Peringatkan Dampak Psikologisnya

ByAdmin Gelanggang

Jan 24, 2025

Baru-baru ini, media sosial ramai membicarakan kebijakan yang diterapkan di SMA Sulthan Baruna, Cikadu, Cianjur, Jawa Barat, di mana para siswi diwajibkan untuk mengikuti tes kehamilan. Dalam sebuah video yang beredar, terlihat para siswi antre untuk melakukan tes urine menggunakan test pack, dan hasilnya kemudian diserahkan kepada pihak sekolah.

Video ini memicu beragam reaksi dari warganet, dengan sebagian pihak mendukung kebijakan tersebut, sementara lainnya mengkritik langkah tersebut.

Kepala Sekolah SMA Sulthan Baruna, Sarman, menjelaskan bahwa kebijakan ini telah dilaksanakan sejak dua tahun lalu, dan biasanya dilakukan setelah libur semester serta pergantian tahun ajaran. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menghindari kehamilan di kalangan siswi, sebagai respons atas kejadian tiga tahun lalu, di mana seorang siswi hamil dan tidak melanjutkan sekolahnya.

“Suatu ketika, ada orang tua yang datang memberi tahu bahwa anaknya hamil dan tidak melanjutkan sekolah. Dari situ kami berpikir untuk menjalankan program ini agar kejadian serupa tidak terulang, sekaligus untuk menghindari pergaulan bebas di kalangan siswi,” ungkap Sarman.

Viral Kebijakan Tes Kehamilan Wajib untuk Siswi di SMA Cianjur, Kemenkes Peringatkan Dampak Psikologisnya

Namun, kebijakan ini mendapatkan perhatian negatif dari pihak Kementerian Kesehatan. Direktur Kesehatan Jiwa Kemenkes, Imran Pambudi, mengingatkan bahwa tes kehamilan seperti ini dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius bagi siswi, terutama jika hasilnya positif.

“Kegiatan ini berisiko menimbulkan masalah mental bagi siswi, seperti kecemasan dan isolasi sosial. Jika tidak ditangani dengan baik, hal ini bisa berkembang menjadi depresi dan gangguan jiwa yang lebih berat,” kata Imran.

Menurutnya, jika tes kehamilan memang diperlukan, sebaiknya dilakukan secara sukarela, bukan sebagai kewajiban. Selain itu, ia menekankan pentingnya pemberian edukasi kesehatan reproduksi yang sesuai dengan usia dan kondisi psikologis remaja.

Imran juga menambahkan bahwa pendekatan berbasis informasi yang lebih tepat dan sensitif terhadap usia siswi akan lebih efektif dalam mencegah kehamilan dini dan menjaga kesehatan mental mereka.