GelanggangNews – Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (7/5/2026), melemah ke level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat di tengah volatilitas pasar global yang masih tinggi.
Berdasarkan data Kurs Transaksi Bank Indonesia, mata uang Garuda tercatat di level Rp17.512,13 per dolar AS untuk kurs jual pada Kamis pagi. Pelemahan ini terpantau sejak pembukaan pasar, di mana permintaan terhadap dolar AS meningkat signifikan. Beberapa sumber lain mencatat nilai tukar bervariasi antara Rp17.372 hingga Rp17.512 per dolar AS, menunjukkan fluktuasi yang cukup tinggi sepanjang hari.
Para analis ekonomi menyebutkan sentimen global terkait kebijakan suku bunga di Amerika Serikat masih menjadi pendorong utama penguatan dolar. Kekhawatiran atas penyangga eksternal Indonesia semakin dalam setelah cadangan devisa turun ke level terendah hampir dua tahun pada Maret 2026. Kondisi neraca perdagangan dalam negeri juga turut mempengaruhi fluktuasi ini, dengan ekspor yang menyusut pada Maret, pertama kalinya dalam empat bulan.
Meskipun demikian, data ekonomi terkini memberikan sedikit dukungan bagi rupiah. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal pertama 2026, laju tercepat sejak pertengahan 2022. Inflasi April juga turun menjadi 2,42 persen, terendah dalam delapan bulan dan kembali masuk dalam kisaran target Bank Indonesia. Bank sentral menegaskan akan mengoptimalkan intervensi melalui berbagai instrumen untuk mendukung stabilitas nilai tukar.
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga barang impor yang menjadi lebih mahal, mulai dari perangkat elektronik hingga bahan baku industri. Pemerintah dan Bank Indonesia terus memantau pergerakan nilai tukar dan bekerja sama memperluas jalur swap dengan China, Jepang, dan Korea Selatan untuk memperkuat cadangan devisa. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak melakukan spekulasi berlebihan terhadap dolar AS.






