Bank Indonesia (BI) baru-baru ini mengumumkan keputusan untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,75% pada Januari 2025. Keputusan ini mengejutkan sejumlah ekonom, mengingat kondisi nilai tukar rupiah yang sedang melemah.
David Sumual, Kepala Ekonom dari Bank Central Asia (BCA), mengungkapkan bahwa kebijakan ini jauh dari perkiraannya. Meskipun inflasi di Indonesia saat ini masih terkendali, David percaya bahwa penurunan BI Rate memberi ruang bagi BI untuk mendorong perekonomian melalui kebijakan moneter. “Keputusan ini di luar prediksi kami. Inflasi memang terjaga, sehingga BI memiliki ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya dalam wawancaranya.
Meskipun nilai tukar rupiah tengah tertekan, BI nampaknya berusaha menjaga daya tarik mata uang rupiah dengan memberikan suku bunga Reverse Repo BI (SRBI) yang menarik. SRBI sendiri adalah instrumen moneter yang digunakan BI untuk menyerap atau menyalurkan likuiditas di pasar uang. Dengan suku bunga SRBI yang lebih tinggi, investor diharapkan tertarik untuk mempertahankan aset mereka dalam rupiah.
David menambahkan bahwa meskipun rupiah mengalami tekanan, kebijakan suku bunga SRBI yang ditawarkan oleh BI bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. “Suku bunga SRBI yang tinggi memang memberikan daya tarik tersendiri, meskipun kurs rupiah sedang melemah,” jelasnya.
Banjaran Surya Indrastomo, Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI), mengungkapkan bahwa penurunan BI Rate ini memang sesuai dengan tren pelemahan rupiah yang terjadi pada awal 2025. Namun, ia menilai waktu pengumuman ini cukup mengejutkan, karena pada saat yang bersamaan terjadi tekanan terhadap pasar surat berharga dalam negeri. “Meskipun rupiah melemah, penurunan BI Rate ini tetap mengejutkan karena adanya tekanan pada pasar surat berharga domestik,” ujarnya. Di sisi lain, Banjaran juga menyebutkan bahwa selisih suku bunga antara BI Rate dan Fed Fund Rate AS yang mencapai 1,5% dapat memberikan manfaat, terutama dalam mengurangi beban utang pemerintah.
Sementara itu, Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank, menyebutkan bahwa meskipun penurunan BI Rate ini tidak sepenuhnya mengejutkan, kebijakan ini berisiko menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Sejak Desember 2024, kami sudah memperkirakan adanya ruang untuk penurunan suku bunga. Namun, walaupun rupiah tertekan, fenomena ini juga terjadi di seluruh dunia karena penguatan dolar AS,” ungkap Josua.

Josua mengingatkan bahwa penurunan suku bunga ini berpotensi meningkatkan risiko bagi perekonomian Indonesia, baik dari faktor domestik maupun global. Dari sisi global, ketegangan dalam perdagangan internasional berpotensi menurunkan daya saing ekspor Indonesia. Sementara dari sisi domestik, rendahnya permintaan dalam negeri yang tercermin dari inflasi yang sangat rendah menjadi tantangan besar.
Di sisi lain, Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, menjelaskan bahwa keputusan untuk menurunkan BI Rate sudah mempertimbangkan berbagai faktor, baik dari sisi global maupun domestik. “Kami terus memantau perkembangan yang terjadi di pasar global dan domestik. Jika ruang untuk penurunan suku bunga masih terbuka, kami akan melanjutkannya,” kata Perry dalam konferensi pers.
Tiga faktor utama yang mendasari keputusan BI ini adalah: pertama, kepastian arah kebijakan moneter AS yang lebih jelas, yang memberi ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga; kedua, inflasi domestik yang masih rendah, sehingga memberikan kesempatan untuk kebijakan moneter yang lebih longgar; dan ketiga, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan sedikit lebih rendah dari yang sebelumnya diperkirakan, sehingga penurunan suku bunga dianggap dapat merangsang pertumbuhan ekonomi.
Perry menambahkan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2025 kini diperkirakan berada dalam kisaran 4,7-5,5%, dengan titik tengah pada 5,1%. “Dengan penurunan suku bunga ini, kami berharap dapat menciptakan sebuah kisah pertumbuhan ekonomi yang lebih baik,” tutup Perry.
Sumber: www.gelanggangnews.com













