Karawang – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur, terdapat kisah menarik dari sebuah sekolah dasar yang terletak hanya beberapa meter dari proyek Tol Jakarta–Cikampek II (Japek II). Para siswa dan guru di sekolah tersebut tetap semangat menimba ilmu di himpitan proyek Tol Japek II, meski harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kebisingan alat berat hingga getaran tanah akibat pengeboran.
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wadas, yang terletak di wilayah Karawang Timur, menjadi salah satu institusi pendidikan yang terdampak langsung oleh pembangunan tol elevated tersebut. Bangunan sekolah ini bahkan berbatasan langsung dengan jalur konstruksi, membuat aktivitas belajar mengajar berlangsung dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Meski demikian, proses belajar tidak berhenti. Para siswa tetap hadir setiap pagi, dan para guru tetap berkomitmen memberikan pengajaran terbaik di tengah keterbatasan. Fenomena ini menunjukkan bagaimana semangat menimba ilmu di himpitan proyek Tol Japek II menjadi bukti keteguhan pendidikan di tengah pembangunan nasional.
Tantangan Belajar dalam Zona Konstruksi
Menurut Kepala Sekolah SDN Wadas, Ibu Rina Marlina, suara mesin dan debu dari proyek sangat memengaruhi kenyamanan belajar. “Kami sering harus berhenti mengajar ketika suara alat berat terlalu keras. Kadang kami menunggu beberapa menit hingga suara mereda,” jelasnya.
Tidak hanya kebisingan, akses menuju sekolah pun kerap terhambat karena truk-truk proyek melintas di sekitar area sekolah. Bahkan, beberapa ruang kelas mengalami retakan akibat getaran dari pekerjaan proyek. Namun demikian, pihak sekolah tetap berusaha menjaga keselamatan dan kenyamanan siswa selama berada di lingkungan sekolah.

Peran Pemerintah dan Kontraktor Proyek
Pemerintah daerah dan kontraktor proyek Tol Japek II menyatakan telah melakukan koordinasi dengan sekolah-sekolah terdampak. Bantuan berupa peredam suara sementara, pemasangan pagar pengaman, serta pembagian masker untuk siswa telah diberikan.
“Kami berupaya agar proses konstruksi tidak mengganggu aktivitas pendidikan. Dalam waktu dekat, kami juga akan memasang pembatas tambahan untuk meredam suara,” ujar perwakilan kontraktor dalam pernyataan resmi.
Namun begitu, sejumlah pihak menilai bahwa upaya tersebut belum cukup. Banyak yang berharap ada relokasi sementara atau dukungan fasilitas yang lebih memadai agar proses menimba ilmu di himpitan proyek Tol Japek II tidak berlangsung dalam tekanan yang berat.
Semangat yang Tak Padam
Di balik tantangan tersebut, terlihat semangat luar biasa dari siswa-siswi dan para pengajar. Mereka membuktikan bahwa pendidikan tetap bisa berjalan meski di tengah keterbatasan. Kisah mereka menjadi cermin dari ketahanan sektor pendidikan dalam menghadapi dampak pembangunan infrastruktur.
“Anak-anak tetap ingin belajar. Mereka bahkan tidak mengeluh, hanya bertanya kapan suara bisingnya berhenti,” tutur Ibu Rina dengan tersenyum.
Untuk berita lebih lanjut seputar pendidikan, infrastruktur, dan kisah inspiratif lainnya, kunjungi portal berita GELANGGANG NEWS di www.gelanggangnews.com.












