JAKARTA – Pemerintah Iran melarang penggunaan WhatsApp dan Telegram karena kedua aplikasi tersebut dianggap sebagai ancaman serius terhadap stabilitas negara. Langkah ini menjadi bagian dari upaya besar pemerintah dalam mengontrol arus informasi digital dan membatasi pengaruh asing di ruang siber nasional.
Sejak tahun 2018, Iran secara bertahap memblokir Telegram, yang sebelumnya sangat populer di kalangan masyarakat Iran. Pemerintah menuding aplikasi itu digunakan untuk mengorganisasi aksi protes dan menyebarkan pesan-pesan anti-pemerintah. Selama gelombang demonstrasi besar, banyak warga memanfaatkan Telegram sebagai media utama untuk berbagi informasi lapangan, mengatur titik kumpul aksi, hingga mengirim video kekerasan aparat.
WhatsApp pun tak luput dari pengawasan. Meski sempat tetap diakses lebih lama dibanding Telegram, layanan pesan milik Meta ini juga dianggap terlalu sulit dikendalikan oleh otoritas. Pemerintah khawatir komunikasi terenkripsi end-to-end pada WhatsApp bisa dimanfaatkan oleh kelompok oposisi, aktivis, dan bahkan badan intelijen asing untuk menyebarkan agitasi dan memata-matai aktivitas di dalam negeri.
Sebagai gantinya, otoritas Iran mendorong warganya untuk beralih ke aplikasi lokal seperti Soroush dan Bale yang dikembangkan dalam negeri. Namun, banyak warga menolak menggunakan aplikasi tersebut karena khawatir data pribadi mereka diawasi langsung oleh pemerintah.
Larangan terhadap aplikasi asing ini memicu kecaman dari komunitas internasional dan pegiat hak digital. Banyak yang menilai kebijakan ini sebagai bentuk sensor ekstrem yang mengekang kebebasan berkomunikasi dan mengakses informasi.
Namun bagi pemerintah Iran, langkah ini justru dianggap sebagai bentuk perlindungan terhadap kedaulatan digital negara. Dalam berbagai pernyataan resmi, pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa dunia maya harus dikendalikan demi mencegah perang informasi dan infiltrasi budaya asing.
Hingga kini, sebagian warga Iran masih dapat mengakses WhatsApp dan Telegram menggunakan VPN. Namun risiko penangkapan dan pemantauan terus membayangi, terutama di masa-masa politik yang sensitif.
Untuk update real-time, kunjungi: gelanggangnews.com

