Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melaju di zona hijau pada sesi pembukaan pagi ini. Dibuka di posisi 6.956,66, IHSG berhasil naik 54,99 poin atau 0,79% hingga mencapai level 7.011,66. Selama perdagangan awal, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 7.022,05, sementara titik terendahnya berada di 6.991,84.
Data dari RTI mencatat volume perdagangan mencapai 2,16 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,29 triliun. Transaksi ini terjadi dalam 191.088 kali perpindahan tangan. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kini mencapai Rp 12.305,34 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, 278 mengalami kenaikan harga, 145 mengalami penurunan, dan 182 lainnya tidak berubah.
Di kawasan Asia, pergerakan indeks saham juga menunjukkan hasil yang bervariasi. Indeks Nikkei tercatat naik 0,29%, Hang Seng menguat tipis 0,01%, sedangkan Shanghai Composite turun 0,15%. Di sisi lain, Straits Times melemah 0,25%, namun indeks LQ45 yang menjadi acuan saham unggulan domestik berhasil naik sebesar 0,68%.

Ratih Mustikoningsih, seorang analis dari Ajaib Sekuritas, memproyeksikan bahwa IHSG akan bergerak variatif atau mixed dalam rentang 6.900 hingga 7.020 pada hari ini. Sentimen dalam negeri yang memengaruhi pergerakan indeks antara lain aksi jual saham-saham unggulan yang telah berlangsung selama dua hari berturut-turut. Hal ini terlihat dari penurunan indeks LQ45 dan IDX30 masing-masing sebesar 1,20% dan 1,02%.
Tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah, yang pagi ini tercatat berada di level Rp 16.300 per dolar AS. Di sisi lain, pelaku pasar tengah menantikan hasil keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga BI-Rate di level 6% untuk menjaga stabilitas moneter di tengah pelemahan nilai tukar.
Dari mancanegara, sentimen negatif muncul dari Amerika Serikat, di mana indeks utama Wall Street bergerak tidak merata menjelang rilis data inflasi terbaru. Inflasi Desember 2024 diproyeksikan masih tinggi, sebagaimana tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Sementara itu, dari China, pertumbuhan jumlah uang beredar (M2) pada Desember 2024 tercatat meningkat menjadi 7,3% dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 7,1%. Peningkatan ini didorong oleh penyaluran kredit baru sebesar CNY 990 miliar pada Desember, yang lebih tinggi dibandingkan dengan November senilai CNY 580 miliar. Namun, secara tahunan, total kredit baru sepanjang 2024 hanya mencapai CNY 18,09 triliun, menjadi yang terendah dalam 13 tahun terakhir.
Sumber: www.gelanggangnews.com













