Pemerintah melalui Kementerian ESDM angkat bicara terkait penurunan nilai ekspor batu bara Indonesia sebesar 19,74 persen selama periode Januari hingga April 2025 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Pelaksana Harian Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Tri Winarno, menyampaikan bahwa penurunan tersebut berkaitan erat dengan peningkatan produksi batu bara di negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia, seperti China dan India. Menurutnya, tren ini merupakan bagian dari strategi global di mana negara-negara mulai mengutamakan ketahanan energi domestik.
Tri menilai kondisi ini tak perlu disikapi secara berlebihan, meskipun perlu dilakukan antisipasi. Ia menyebut kawasan ASEAN bisa menjadi potensi pasar baru untuk menjaga stabilitas ekspor Indonesia ke depan.
Tri juga menampik anggapan bahwa penurunan ekspor ke China dan India secara otomatis berarti kedua negara tersebut sepenuhnya beralih ke pemasok lain seperti Rusia atau Mongolia. Ia menekankan bahwa Indonesia masih menjadi pemasok dominan, terutama karena faktor efisiensi logistik yang tidak dimiliki oleh negara pesaing seperti Mongolia.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor batu bara Indonesia pada empat bulan pertama tahun ini tercatat sebesar US$8,17 miliar. Angka tersebut mengalami penurunan dari US$10,18 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terjadi karena dua faktor utama, yaitu turunnya volume ekspor sebesar 5,79 persen menjadi 122,76 juta ton, serta harga rata-rata yang juga turun sebesar 14,92 persen menjadi US$66,53 per ton.
China dan India masih menjadi pembeli terbesar batu bara Indonesia, dengan kontribusi hingga 63 persen dari total ekspor pada 2023. Namun, laporan terbaru dari Energy Shift Institute (ESI) memperingatkan bahwa ketergantungan terhadap kedua pasar tersebut perlu segera dikaji ulang.
Dalam laporan berjudul Coal in Indonesia: Paradox of Strength and Uncertainty, peneliti ESI Hazel Ilango mengungkapkan bahwa China tengah mempercepat transisi energinya. Lebih dari 75 persen pertumbuhan permintaan listrik di negara itu kini dipenuhi oleh sumber energi bersih, sejalan dengan komitmen iklim Presiden Xi Jinping untuk 2035.
Hazel juga mengingatkan bahwa jika tren ini terus berlangsung, Indonesia berisiko menghadapi stagnasi atau bahkan penurunan ekspor batu bara secara permanen dalam waktu dekat.
Meski begitu, sektor batu bara nasional masih mencatatkan keuntungan besar dalam lima tahun terakhir. Data menunjukkan bahwa sepanjang 2019 hingga 2023, sektor pertambangan dan jasa batu bara menghasilkan laba bersih mencapai US$31,4 miliar atau sekitar Rp508,5 triliun dengan asumsi kurs Rp16.193 per dolar AS. Bahkan, pada 2024, produksi batu bara nasional mencapai rekor tertinggi sebesar 836 juta ton, meningkat 7,9 persen dari tahun sebelumnya.
Namun, ESI mengingatkan bahwa lonjakan keuntungan tersebut bersifat fluktuatif dan temporer. Seiring dengan menurunnya harga batu bara global sejak 2022, pemerintah dan pelaku industri diimbau untuk mulai menyusun strategi diversifikasi energi demi menjaga keberlanjutan ekonomi nasional.
Informasi lebih lengkap dan berita strategis lainnya hanya di:
https://gelanggangnews.com

