Disabilitas Bukan Batas, Kisah Ika Mahasiswi Tuli yang Jadi Juru Bahasa Isyarat di TV

Jakarta — Di tengah hiruk-pikuk dunia pertelevisian yang kompetitif, muncul sosok inspiratif bernama Ika Puspita, mahasiswi penyandang disabilitas tuli yang kini menorehkan prestasi sebagai juru bahasa isyarat (JBI) di salah satu stasiun televisi nasional. Kisah hidup Ika menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi, melainkan pijakan untuk melangkah lebih jauh.

Ika lahir di Yogyakarta dari pasangan sederhana. Sejak usia dua tahun, ia didiagnosis mengalami gangguan pendengaran total akibat infeksi berat pada saluran telinga. Namun, alih-alih menyerah pada nasib, kedua orang tuanya menanamkan nilai penting dalam dirinya: bahwa disabilitas bukan hambatan, tetapi tantangan yang harus ditaklukkan.

Perjalanan Ika menuju dunia penyiaran tidaklah mudah. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Yogyakarta, di mana ia pertama kali mengenal Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Kecintaannya pada komunikasi dan semangat membantu sesama membuatnya bercita-cita menjadi juru bahasa isyarat profesional. Setelah lulus SLB, Ika melanjutkan studi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), jurusan Pendidikan Luar Biasa.

Selama masa kuliah, Ika aktif mengikuti berbagai pelatihan dan seminar tentang bahasa isyarat, serta sering menjadi penerjemah sukarela dalam acara kampus. Ketekunan dan dedikasinya menarik perhatian salah satu stasiun televisi nasional yang kemudian merekrutnya sebagai Juru Bahasa Isyarat (JBI) dalam program berita harian. Sejak saat itu, wajah Ika kerap menghiasi layar kaca di pojok kanan bawah televisi, menerjemahkan setiap informasi penting bagi masyarakat tuli di seluruh Indonesia.

Dalam wawancara dengan redaksi, Ika mengungkapkan bahwa menjadi juru bahasa isyarat di televisi bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk perjuangan. “Saya tidak hanya menerjemahkan kata, tapi juga menyalurkan makna dan perasaan agar teman-teman tuli bisa merasakan pesan yang sama,” ujarnya dengan bahasa isyarat yang penuh semangat.

Kehadiran Ika di layar televisi membawa dampak besar. Banyak masyarakat yang mulai memahami pentingnya akses informasi bagi penyandang disabilitas. Bahkan, komunitas tuli di Indonesia menilai langkah stasiun televisi yang mempekerjakan JBI seperti Ika adalah langkah maju menuju inklusi media yang lebih adil dan setara.

Namun, Ika tak berhenti di situ. Ia kini aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan menjadi pengajar bahasa isyarat untuk masyarakat umum. Tujuannya sederhana: agar semakin banyak orang mampu berkomunikasi dengan komunitas tuli tanpa hambatan. Ia juga menginisiasi gerakan sosial bertajuk “Suara Tanpa Bunyi”, yang mengedukasi publik bahwa komunikasi tak harus dengan suara, tapi bisa dengan makna dan hati.

Kisah Ika menginspirasi banyak kalangan, termasuk pejabat pemerintah dan akademisi. Kementerian Sosial bahkan menyebutnya sebagai “ikon inklusi generasi muda”. Baginya, kesuksesan bukan soal mampu mendengar, melainkan mampu membuat orang lain mengerti. “Kita semua sama, hanya cara berkomunikasinya yang berbeda,” ucapnya dengan senyum hangat.

Dengan segala pencapaiannya, Ika menjadi simbol harapan bagi ribuan anak muda penyandang disabilitas di Indonesia. Ia membuktikan bahwa mimpi tidak memiliki batas, dan bahwa ketulian bukanlah akhir dari segalanya — melainkan awal dari perjalanan luar biasa untuk membuktikan bahwa disabilitas bukan batas, melainkan kekuatan.

Selengkapnya hanya di: www.gelanggangnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *