Indonesia mencatat defisit perdagangan dengan Uganda selama beberapa tahun terakhir. Meski nilai total perdagangan tidak terlalu besar, tren ini menjadi perhatian pemerintah karena menunjukkan dominasi impor atas ekspor dari Indonesia ke negara di Afrika Timur tersebut.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, Indonesia mengimpor berbagai komoditas dari Uganda seperti kopi, teh, kakao, dan tembakau, sementara ekspor Indonesia masih terbatas pada produk olahan makanan, sabun, dan barang konsumsi lainnya.
Kondisi ini mendorong pemerintah dan pelaku usaha nasional untuk meningkatkan ekspor produk unggulan ke Uganda. Beberapa potensi yang sedang didorong meliputi:
- Produk tekstil dan pakaian jadi
- Obat-obatan dan alat kesehatan
- Produk otomotif dan suku cadang
- Alat elektronik rumah tangga
- Bahan bangunan
Kementerian Perdagangan juga membuka peluang untuk mengadakan misi dagang bilateral dan memperluas jaringan distribusi melalui pelaku diaspora Indonesia di kawasan Afrika.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Didi Sumedi, menyatakan bahwa Afrika adalah pasar non-tradisional yang menjanjikan, terutama bagi UMKM yang ingin menembus pasar global baru.
“Uganda bisa menjadi pintu masuk ke kawasan Afrika Timur. Kita harus berani ekspansi ke pasar yang belum tergarap maksimal,” ujarnya.
Langkah peningkatan ekspor ini sejalan dengan strategi diversifikasi pasar ekspor Indonesia, guna mengurangi ketergantungan terhadap mitra dagang tradisional dan memperluas jangkauan produk lokal ke mancanegara.
Selengkapnya di gelanggangnews.com

