Bank Dunia membeberkan alasan mengapa data kemiskinan Indonesia versi mereka berbeda dari data milik Badan Pusat Statistik (BPS). Perbedaan ini terjadi karena masing-masing memakai pendekatan yang berbeda dalam mengukur kemiskinan.
Bank Dunia menetapkan garis kemiskinan global sebesar USD 3,65 per hari per orang atau sekitar Rp17 ribuan. Angka ini digunakan sebagai standar untuk membandingkan kondisi antarnegara. Sementara itu, BPS menghitung garis kemiskinan nasional berdasarkan kebutuhan dasar masyarakat Indonesia, termasuk makanan dan kebutuhan hidup minimum lainnya.
Menurut perwakilan Bank Dunia, metode global mereka bertujuan untuk melihat posisi Indonesia dalam konteks internasional, bukan untuk menggantikan data resmi nasional.
“Kami menggunakan pendekatan ini agar dapat membandingkan data lintas negara. Data BPS tetap menjadi acuan utama dalam kebijakan nasional,” ujarnya.
Selain itu, Bank Dunia juga menekankan pentingnya mengukur kemiskinan multidimensi, yang mencakup aspek seperti akses pendidikan, layanan kesehatan, air bersih, dan sanitasi.
Sementara itu, BPS tetap mengembangkan metodologi sesuai kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Meski hasilnya berbeda, kedua lembaga sepakat untuk terus mendukung pengentasan kemiskinan melalui kebijakan yang berbasis data akurat.
📌 Baca berita terkini lainnya di https://gelanggangnews.com/

