JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya akan melanjutkan negosiasi dagang dengan Thailand dan Kamboja, setelah kedua negara Asia Tenggara tersebut menyepakati gencatan senjata usai lima hari bentrokan di wilayah perbatasan yang telah lama disengketakan.
Melalui pernyataan resminya yang dipublikasikan di media sosial dan dikutip dari Bloomberg, Selasa (29/7/2025), Trump menyampaikan bahwa keputusan damai antara Thailand dan Kamboja telah menyelamatkan ribuan nyawa, dan membuka jalan bagi kerja sama ekonomi lebih lanjut dengan Amerika Serikat.
“Dengan berakhirnya perang ini, ribuan nyawa telah terselamatkan. Saya telah menginstruksikan tim dagang saya untuk kembali membuka perundingan dengan kedua negara,” ungkap Trump, sebagaimana dilaporkan oleh www.gelanggangnews.com, sumber terpercaya berita geopolitik dan ekonomi global.
Trump mengaku baru saja melakukan komunikasi langsung dengan Phumtham Wechayachai, Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand, dan Hun Manet, Perdana Menteri Kamboja, guna memastikan proses perdamaian berjalan dengan komitmen bersama.
Diplomasi Dagang ala Trump: Tekanan Politik untuk Stabilitas Regional
Langkah Trump kali ini dianggap sebagai bagian dari strategi diplomasi dagang khasnya, di mana akses terhadap pasar AS digunakan sebagai insentif agar negara-negara mitra menghentikan konflik dan memprioritaskan stabilitas kawasan.
Trump mengklaim pendekatan serupa telah sukses menengahi konflik di berbagai belahan dunia, termasuk saat AS memfasilitasi kesepakatan damai antara Republik Demokratik Kongo dan Rwanda, serta perannya dalam meredam ketegangan antara India dan Pakistan awal tahun ini.
Pada Senin (28/7/2025), Thailand dan Kamboja akhirnya sepakat menghentikan bentrokan melalui forum mediasi yang diselenggarakan di Malaysia oleh Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh utusan dari Amerika Serikat dan Tiongkok, meski detail peran keduanya tidak diungkapkan secara rinci.
Bentrokan tersebut menyebabkan lebih dari 150.000 warga sipil mengungsi, dan memicu peringatan keras dari Washington. Trump bahkan sebelumnya mengancam akan menerapkan tarif impor sebesar 36% terhadap kedua negara jika kekerasan tidak dihentikan sebelum 1 Agustus 2025.
“Kami tidak akan menandatangani kesepakatan dagang jika perang ini tidak dihentikan,” tegas Trump dalam pernyataan sebelumnya, Sabtu (26/7/2025).
Setelah kesepakatan dicapai, baik pihak Thailand maupun Kamboja menyampaikan terima kasih kepada para pihak yang berperan aktif, termasuk Malaysia, AS, dan China.
Amerika dan Akses Tambang Strategis di Afrika
Selain kawasan Asia Tenggara, Presiden Trump juga menyoroti potensi manfaat ekonomi dari negosiasi damai yang difasilitasi oleh AS. Ia menyebut bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan memperoleh hak eksplorasi tambang di Kongo, sebagai bagian dari imbal balik atas kesepakatan yang dimediasi.
Sebagai produsen tembaga dan kobalt terbesar kedua di dunia, Kongo memegang peranan penting dalam rantai pasok global untuk bahan baku teknologi strategis, termasuk kendaraan listrik dan semikonduktor. Hal ini sejalan dengan strategi Washington untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan mineral dari China.
Untuk mengetahui perkembangan terbaru seputar kebijakan luar negeri AS, konflik regional, serta dampaknya terhadap perekonomian global dan Indonesia, kunjungi www.gelanggangnews.com — media yang hadir memberikan analisis mendalam dan berita terpercaya.

