Gelanggang News – Wakil Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Wamendikbudristek) Fauzan Amrullah mengeluarkan peringatan keras terkait meningkatnya praktik perjokian dalam Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026. Ia menekankan bahwa para pelaku kini menggunakan metode yang jauh lebih canggih dan terorganisir, bahkan menyusup ke sistem digital.
Peringatan ini disampaikan Fauzan dalam forum diskusi pendidikan nasional di Jakarta pada Senin (16/9/2025), menjelang dibukanya proses pendaftaran SNPMB tahun 2026. Ia menyatakan bahwa pihak kementerian telah mengidentifikasi berbagai modus baru, mulai dari penggunaan perangkat mikro tersembunyi, hingga manipulasi identitas biometrik saat ujian berbasis komputer (UTBK).
“Kami menemukan bahwa joki sekarang tidak lagi bekerja sendiri. Mereka punya jaringan, bahkan menggunakan teknologi penyadap suara mini, kamera tersembunyi, hingga identitas digital palsu,” ujar Fauzan.
Modus Perjokian Semakin Canggih
Fenomena joki dalam SNPMB bukanlah hal baru. Namun, menurut Wamen Fauzan, apa yang terjadi menjelang SNPMB 2026 ini menunjukkan eskalasi yang sangat serius. Modus yang digunakan tak lagi hanya sebatas menggantikan peserta ujian secara fisik, tetapi sudah melibatkan rekayasa digital, manipulasi perangkat lunak, dan intervensi jaringan ujian online.
Salah satu kasus yang sedang ditelusuri melibatkan oknum yang diduga menyusupkan perangkat komunikasi nirkabel ke ruang ujian, lalu menerima jawaban dari tim di luar lokasi melalui sinyal terenkripsi.
Upaya Pencegahan dan Deteksi Dini
Pemerintah melalui Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) dan Panitia SNPMB telah menyiapkan langkah pencegahan. Tahun ini, sistem pengawasan akan ditingkatkan dengan teknologi pengenal wajah (face recognition), pelacak sinyal radio, dan sistem deteksi perilaku mencurigakan berbasis AI.
Selain itu, setiap lokasi UTBK akan diawasi secara ketat oleh pengawas terlatih dan tim keamanan siber. Data biometrik seperti sidik jari dan wajah akan dicocokkan secara real-time dengan data registrasi peserta.
“Kami tidak hanya ingin menangkap pelaku joki, tetapi memutus seluruh jaringan perjokian. Ini menyangkut integritas pendidikan tinggi kita,” tegas Wamen.
Peringatan bagi Calon Mahasiswa dan Orang Tua
Fauzan juga mengingatkan kepada seluruh calon peserta SNPMB dan para orang tua agar tidak tergoda menggunakan jasa joki, betapapun meyakinkan promosinya di media sosial atau forum-forum online. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang terbukti menggunakan jasa joki akan didiskualifikasi secara permanen dari seluruh proses seleksi perguruan tinggi negeri.
“Jangan gadaikan masa depan dengan cara curang. Lebih baik gagal dengan jujur, daripada lulus dengan cara kotor dan akhirnya dicabut hak akademiknya,” tegasnya.
Perlu Peran Bersama
Selain pendekatan teknologi, pemerintah juga mengajak masyarakat, lembaga pendidikan, dan media untuk ikut serta dalam kampanye integritas SNPMB 2026. Kesadaran kolektif menjadi kunci dalam melawan praktik joki yang kini mulai melibatkan oknum dari luar negeri dan jaringan kriminal lintas wilayah.
Untuk informasi eksklusif seputar pendidikan nasional, seleksi masuk perguruan tinggi, dan ancaman keamanan digital dalam sistem akademik, ikuti terus berita lengkap hanya di:
👉 www.gelanggangnews.com












