Wakil Ketua MPR RI mendorong peningkatan kualitas guru sebagai langkah strategis untuk memperkuat fondasi pendidikan nasional. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa guru merupakan garda terdepan dalam membentuk generasi emas Indonesia 2045. Tanpa peningkatan kapasitas dan kesejahteraan tenaga pendidik, cita-cita besar bangsa untuk menjadi negara maju akan sulit tercapai.
Menurutnya, guru bukan hanya sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan juga agen perubahan sosial yang berperan penting dalam menanamkan nilai moral, karakter, dan wawasan kebangsaan kepada peserta didik. “Transformasi pendidikan harus dimulai dari guru. Mereka harus dibekali dengan keterampilan abad ke-21, penguasaan teknologi digital, serta kemampuan adaptif terhadap perubahan zaman,” ujarnya dalam forum pendidikan nasional di Jakarta.
Waka MPR menilai, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang cepat. Digitalisasi pendidikan, menurutnya, harus diimbangi dengan penguatan kompetensi guru agar proses belajar-mengajar tetap relevan dan efektif. Ia juga menyoroti pentingnya pelatihan berkelanjutan serta akses setara bagi seluruh guru, terutama mereka yang bertugas di daerah terpencil.
“Pemerintah perlu memperluas program peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan daring, sertifikasi kompetensi, serta dukungan insentif bagi guru di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Semua ini penting untuk memastikan tidak ada kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah,” tegasnya.
Selain itu, Waka MPR juga menyoroti pentingnya penghargaan terhadap profesi guru. Ia menilai masih banyak tenaga pendidik yang belum mendapatkan pengakuan dan kesejahteraan yang layak, padahal mereka memegang peranan vital dalam mencetak sumber daya manusia unggul. “Negara harus hadir untuk memastikan guru mendapatkan kehidupan yang sejahtera. Guru yang sejahtera akan mengajar dengan hati, bukan sekadar memenuhi kewajiban,” tambahnya.
Transformasi pendidikan nasional, lanjutnya, tidak dapat dilepaskan dari sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Ia mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berorientasi pada kualitas, inovasi, dan nilai-nilai kebangsaan.
Waka MPR juga menegaskan bahwa peran guru di era digital tidak akan tergantikan oleh teknologi. “AI dan sistem pembelajaran digital hanyalah alat bantu. Sentuhan manusia, empati, dan nilai-nilai karakter hanya bisa diberikan oleh guru. Karena itu, investasi terbesar bangsa ini seharusnya ada pada penguatan kualitas guru,” pungkasnya.
Dengan upaya berkelanjutan dalam meningkatkan mutu dan kesejahteraan tenaga pendidik, diharapkan sistem pendidikan Indonesia mampu menghasilkan generasi yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter kuat — sebuah pondasi penting menuju Indonesia Emas 2045.
Selengkapnya kunjungi www.gelanggangnews.com












