GelanggangNews – Sebuah gubuk bambu berukuran tak lebih dari 2 x 3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan yang memilukan. Di tempat sederhana itulah YBR (10), seorang pelajar SD, ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 12.30 WITA. YBR ditemukan dalam kondisi tergantung di pohon cengkih depan pondok tempat ia tinggal bersama sang nenek.
Saat kejadian, nenek korban tengah mandi di kali yang jaraknya tak jauh dari pondok. Tak ada tanda-tanda mencurigakan sebelumnya. Tak ada pertengkaran. Tak ada pula riwayat perilaku menyimpang.
YBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak berusia satu tahun tujuh bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu tersebut. Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali. Sehari-hari, selain bersekolah, YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya; pisang dan ubi menjadi menu yang paling sering dikonsumsi.
Menurut keterangan neneknya, YBR dikenal sebagai anak yang pendiam dan penurut. Ia tak pernah menunjukkan perilaku aneh. Keluhannya hanya sederhana: buku tulis dan pena untuk sekolah. “Kami selalu berusaha penuhi semampu kami,” tutur sang nenek lirih saat ditemui di Sa’o, Selasa (3/2/2026).
Ibu kandung YBR, Maria Goreti Te’a (47), menceritakan pagi terakhir sebelum tragedi itu terjadi. YBR mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. Namun, karena khawatir sang anak tertinggal pelajaran, sang ibu tetap mendorongnya untuk sekolah dan mengantarnya menggunakan ojek. Siang harinya, kabar duka itu datang menghantam keluarga tanpa peringatan. “Saya kaget ada kabar dari tetangga. Saya pikir anak saya pergi ke sekolah,” ungkap Maria.
Dari pantauan lapangan dan keterangan warga, keluarga YBR hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan sejak ditinggalkan oleh kepala keluarga. Kondisi ini membuat pengasuhan anak-anak terpisah, pendampingan emosional minim, dan akses pendidikan terbatas. Ironisnya, keluarga ini juga tercatat luput dari berbagai bantuan pemerintah, baik bantuan rumah layak huni, pendidikan, maupun bantuan sosial lainnya. Dari lima anak, hanya dua yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan. Pemerintah desa setempat bersama tokoh masyarakat telah memberikan santunan awal sebagai bentuk kepedulian.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, turun langsung meninjau lokasi dan bertemu keluarga korban pada Selasa (3/2/2026). “Setelah membaca berita di media, saya sangat tersentuh. Saya ingin memastikan langsung apakah benar korban tinggal bersama nenek di pondok. Dan setelah saya lihat, itu benar,” ungkap Gerardus Reo.
Ia juga menemukan persoalan administrasi kependudukan yang membuat keluarga ini luput dari sistem bantuan. “Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo, meski sudah 11 tahun tinggal di Desa Naruwolo. Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai,” jelasnya.











