Pada hari Senin (3/2/2025), Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, mengkritik keras operasi militer yang dilakukan oleh Israel di Tepi Barat, menyebutnya sebagai bentuk “pembersihan etnis”. Kritik tersebut muncul setelah diketahui bahwa pasukan Israel telah menewaskan 70 warga Palestina di wilayah tersebut sepanjang tahun ini.
Juru bicara Abbas, Nabil Abu Rudeineh, dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa operasi militer Israel tersebut merupakan ekspansi agresi terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Menurutnya, operasi ini adalah bagian dari upaya Israel untuk menggusur warga Palestina dan melakukan pembersihan etnis. Kementerian Kesehatan Palestina di Ramallah mencatat bahwa 70 orang, termasuk 10 anak-anak, satu perempuan, dan dua orang lanjut usia, tewas dalam operasi tersebut sejak awal tahun.
Kementerian Kesehatan Palestina juga melaporkan bahwa mayoritas korban tewas berasal dari wilayah Jenin dan Tubas di bagian utara Tepi Barat, dengan satu korban lainnya tercatat tewas di Yerusalem Timur, yang telah dianeksasi oleh Israel. Serangan besar-besaran yang dilakukan militer Israel pada 21 Januari ini bertujuan untuk membasmi kelompok bersenjata Palestina yang beroperasi di Jenin.

Pemerintah Palestina mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk segera mengambil tindakan guna menghentikan agresi Israel yang sedang berlangsung. “Kami menuntut agar AS campur tangan sebelum terlambat untuk menghentikan serangan ini terhadap rakyat dan tanah kami,” ujar Rudeineh dalam pernyataan resminya.
Pernyataan ini disampaikan bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ke Washington. Di AS, Netanyahu dijadwalkan untuk melanjutkan pembicaraan mengenai fase kedua gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza. Tahap selanjutnya diharapkan mencakup pembebasan tahanan dan perbincangan mengenai penyelesaian jangka panjang untuk konflik tersebut.
Sumber: www.gelanggangnews.com
