GelanggangNews – LAUT ANDAMAN – Nasib ratusan warga Rohingya dan warga Bangladesh masih belum diketahui setelah kapal yang mereka tumpangi terbalik di Laut Andaman, pekan lalu. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani pengungsi dan migrasi melaporkan sedikitnya 250 orang dinyatakan hilang dalam insiden ini.
Sebagian dari korban yang belum ditemukan tersebut termasuk anak-anak, sebagaimana diberitakan BBC, Rabu (15/4/2026).
Cuaca Buruk dan Kelebihan Muatan
Kecelakaan ini diduga kuat berkaitan dengan kondisi cuaca ekstrem dan kapasitas kapal yang melampaui batas. Menurut badan PBB, kapal penangkap ikan yang berangkat dari Bangladesh menuju Malaysia tersebut tenggelam akibat angin kencang, gelombang tinggi, serta kelebihan muatan.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti waktu tepatnya kapal tersebut terbalik. Namun, Penjaga Pantai Bangladesh (Bangladesh Coast Guard/BCG) mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa salah satu kapal mereka berhasil menyelamatkan sembilan orang pada 9 April 2026.
“Kapal berbendera Bangladesh, MT Meghna Pride, menemukan beberapa orang terapung di laut menggunakan drum dan kayu, lalu menyelamatkan mereka dari perairan dalam dekat Kepulauan Andaman,” ujar Juru Bicara BCG, Letnan Komandan Sabbir Alam Sujan, melansir The Guardian, Selasa (14/4/2026).
Kesaksian Penyintas
Kesaksian penyintas mengungkap beratnya kondisi yang dialami penumpang. Salah satu penyintas, Rafiqul Islam, menceritakan bahwa ia bertahan hampir 36 jam sebelum diselamatkan. Selama itu, ia terombang-ambing di lautan dengan luka bakar akibat tumpahan minyak kapal. Ia menuturkan bahwa janji pekerjaan di Malaysia mendorongnya nekat menaiki kapal tersebut.
Dampak Pengungsian Berkepanjangan
Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menyatakan bahwa tragedi ini mencerminkan dampak serius dari pengungsian berkepanjangan serta ketiadaan solusi jangka panjang bagi warga Rohingya. Pernyataan ini disampaikan bersama Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
Rohingya adalah kelompok etnis minoritas di Myanmar yang tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah setempat. Sejak operasi militer tahun 2017, ratusan ribu warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Namun, kondisi kehidupan yang sulit di kamp pengungsian mendorong mereka mengambil risiko perjalanan laut menuju Malaysia demi mencari keselamatan dan peluang hidup yang lebih baik.
Perjalanan Berisiko
Laporan BBC menyebutkan bahwa armada yang digunakan umumnya berukuran kecil dan penuh sesak, tanpa fasilitas dasar seperti air bersih dan sanitasi. Banyak dari mereka yang meninggal di laut atau menghadapi penolakan saat mendekati wilayah Malaysia dan Indonesia.
Pada Januari 2025, Malaysia dilaporkan menolak dua kapal yang membawa sekitar 300 pengungsi. “Orang-orang meninggal karena konflik dan kelaparan. Sebagian merasa lebih baik mati di laut daripada perlahan mati di sini,” ujar seorang pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh.
Desakan Pendanaan Internasional
Badan-badan PBB mendesak komunitas internasional untuk terus mendukung pendanaan bagi pengungsi Rohingya dan masyarakat penampung di Bangladesh. Tragedi ini menjadi pengingat akan perlunya upaya mendesak dalam mengatasi akar masalah di Myanmar agar para pengungsi dapat kembali ke tanah air mereka secara aman dan bermartabat.
