gelanggangnews, Ritual Petik Tirta Amerta kembali digelar secara khidmat di Titik Nol Sumber Brantas, Arboretum Kota Batu, Jumat (25/07/2025). Tradisi sakral ini menjadi penanda resmi pembukaan Festival Kali Brantas #4, sebuah perhelatan budaya dan ekologi yang diprakarsai budayawan Malang, Isa Wahyudi atau lebih dikenal sebagai Ki Demang.
Festival ini tidak sekadar seremoni, melainkan ekspresi syukur serta pengingat spiritual bahwa air adalah sumber utama kehidupan. Dalam kearifan lokal Jawa dan Hindu, “Tirta Amerta” berarti air kehidupan—simbol kejernihan, kekuatan, dan panjang umur.
Mengambil Air Suci sebagai Bentuk Syukur
Upacara ini dipimpin tokoh budaya Kota Batu seperti Ki Lelono dan Bu Umie Solekan, yang secara simbolis membuka mata air dengan mantra sakral:
“Sasi mimba, haning data, nedhi tirta, banyu dzat sira, huripa.”
Maknanya: Dalam bulan penyucian, saat hening menyelimuti alam, kami memohon air suci, sebab air adalah zat-Mu, sumber kehidupan sejati.
Tokoh budaya lain, Mbah Karjo, menegaskan bahwa prosesi ini bukan hanya pelestarian tradisi leluhur, tetapi juga ajakan membangun etika baru terhadap lingkungan, bersandar pada nilai-nilai lama yang sarat makna.
Memuliakan Hulu, Menjaga Hilir
Menurut Ki Demang, Festival Kali Brantas dimulai dari hulu untuk menegaskan pesan ekologis bahwa menjaga sungai harus dimulai dari sumbernya. Jika hulu dijaga dan dimuliakan, maka aliran ke hilir akan lebih bersih dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar acara tahunan, Festival Kali Brantas yang sudah berlangsung sejak 2022 ini adalah ruang gotong royong lintas budaya dan generasi. Rangkaian kegiatan tahun ini digelar di tujuh kampung tematik di Kota Malang:
Kampung Keramik Dinoyo
Kampung Grabah Penanggungan
Kampung Putih Klojen
Kampung Biru Arema Kidul Dalem
Kampung Tridi Kesatrian
Kampung Warna Warni Jodipan
Kampung Lampion Jodipan
Seni Tradisi, Aksi Lingkungan, dan Kesadaran Kolektif
Agenda berikutnya pada Sabtu (26/7/2025) akan dilangsungkan di Kampung Grabah Penanggungan dengan Kenduren dan Larung Sesaji Kali Brantas. Hari Minggu (27/7/2025) menjadi puncak acara berupa Gugur Gunung Rijik-Rijik Kali Brantas, aksi bersih sungai secara serempak oleh warga tujuh kampung—menandai peringatan Hari Sungai Nasional.
Berbagai pertunjukan budaya turut memeriahkan festival ini, seperti:
Wayang Topeng Ronggeng Kali Brantas di Kampung Warna Warni
Dolanan Lempung Brantas di Dinoyo dan Penanggungan
Nyanyian Arema Kali Brantas di Kampung Biru Arema
Nyadran dan Ruwatan Kali Brantas sebagai refleksi spiritual
Budaya sebagai Jembatan Kesadaran Lingkungan
“Festival ini bukan sekadar pesta rakyat,” kata Ki Demang. “Ini adalah platform budaya yang membangun kesadaran kolektif, bahwa menjaga air sama dengan menjaga masa depan.”
📌 Simak informasi lengkap dan kabar budaya lainnya di:
👉 www.gelanggangnews.com













