Seoul, Gelanggangnews — Pemerintah Korea Selatan mengumumkan penurunan signifikan dalam jumlah personel militer aktif, yakni sekitar 20 persen dalam satu dekade terakhir. Penurunan ini secara langsung terkait dengan krisis demografi yang tengah melanda negara tersebut, khususnya akibat menurunnya populasi pria usia produktif.
Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyatakan bahwa pada pertengahan 2025 ini, jumlah personel militer aktif tercatat sekitar 400.000, turun dari lebih dari 500.000 pada awal 2015. Angka ini menunjukkan bahwa personel militer Korea Selatan anjlok 20 persen imbas menurunnya populasi pria, sebuah tren yang sebelumnya telah diprediksi oleh sejumlah ahli demografi.
“Angka kelahiran yang terus menurun sejak dua dekade terakhir mulai menunjukkan dampak nyata pada kesiapan militer nasional,” ujar Jenderal Park Jong-hwan dalam konferensi pers, Senin (11/8). Ia menambahkan bahwa kekurangan rekrutmen wajib militer menjadi tantangan utama bagi pertahanan negara di tengah ketegangan geopolitik yang masih tinggi di kawasan Semenanjung Korea.
Seperti diketahui, Korea Selatan menerapkan wajib militer bagi pria dewasa berusia 18 hingga 28 tahun. Namun, seiring menurunnya populasi pria dalam kelompok usia tersebut, semakin sedikit warga yang tersedia untuk memenuhi kuota militer tahunan. Hal ini membuat personel militer Korea Selatan anjlok 20 persen imbas menurunnya populasi pria, yang berdampak langsung pada struktur pertahanan nasional.
Sebagai respons, pemerintah mulai mempertimbangkan langkah-langkah alternatif seperti meningkatkan jumlah personel perempuan, memperpanjang masa tugas militer, hingga memodernisasi militer dengan teknologi otomatis dan kecerdasan buatan.
Dr. Lee Min-soo, peneliti demografi dari Korea Institute for Defense Analyses (KIDA), menekankan bahwa tren ini kemungkinan besar akan berlanjut. “Ini adalah konsekuensi logis dari tingkat kesuburan Korea Selatan yang kini menjadi salah satu yang terendah di dunia. Dalam jangka panjang, reformasi militer yang menyeluruh tak bisa dihindari,” katanya.

Meskipun teknologi pertahanan terus dikembangkan, sejumlah kalangan menilai bahwa ketergantungan pada jumlah personel masih krusial, terutama dalam menghadapi kemungkinan konflik konvensional. Oleh karena itu, fakta bahwa personel militer Korea Selatan anjlok 20 persen imbas menurunnya populasi pria menjadi isu nasional yang kini menjadi perhatian parlemen dan masyarakat sipil.
Krisis populasi juga berdampak pada sektor lain, termasuk ekonomi, tenaga kerja, dan sistem pensiun. Pemerintah Korea Selatan telah menggelontorkan berbagai insentif untuk mendorong angka kelahiran, namun hasilnya masih jauh dari harapan.
Untuk perkembangan terbaru tentang isu geopolitik dan pertahanan kawasan Asia Timur, kunjungi www.gelanggangnews.com.
