Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2025 menunjukkan tren positif di tengah perlambatan global. Meski demikian, perbandingan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan negara ASEAN lainnya menunjukkan dinamika yang menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks pemulihan pasca-pandemi dan ketahanan terhadap gejolak eksternal.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,3% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal II/2025. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 5,1%. Sektor manufaktur, konsumsi rumah tangga, dan investasi menjadi pendorong utama pertumbuhan.
Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, posisi Indonesia berada di tengah-tengah. Perbandingan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan negara ASEAN menunjukkan bahwa Vietnam tumbuh lebih cepat, yakni sebesar 6,4%, didorong oleh ekspor dan sektor industri pengolahan yang agresif. Sementara itu, Filipina mencatat pertumbuhan 5,6%, dan Thailand hanya tumbuh 3,8% akibat masih lesunya sektor pariwisata.
Singapura, yang sangat bergantung pada sektor jasa dan perdagangan global, mengalami pertumbuhan yang stagnan di angka 1,9%. Di sisi lain, Malaysia membukukan pertumbuhan sebesar 4,7%, yang ditopang oleh ekspor komoditas dan kebijakan fiskal yang ekspansif.
Analis ekonomi dari Center for ASEAN Studies, Fadli Ramadhan, menilai bahwa perbandingan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan negara ASEAN tak bisa dilepaskan dari faktor struktural masing-masing negara. “Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan relatif stabil. Namun, kita masih perlu mendorong produktivitas sektor industri dan teknologi agar tidak tertinggal dari negara-negara seperti Vietnam,” ujarnya.

Pemerintah Indonesia sendiri menyambut baik capaian pertumbuhan ini, namun tetap menyoroti perlunya reformasi struktural untuk menjaga daya saing di kawasan. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa fokus pemerintah ke depan adalah pada peningkatan investasi produktif, infrastruktur digital, serta reformasi tenaga kerja.
“Persaingan di Asia Tenggara semakin ketat. Indonesia harus bisa memanfaatkan bonus demografi dan mempercepat transformasi ekonomi,” ujar Sri Mulyani dalam forum ekonomi nasional pekan lalu.
Perlu dicatat bahwa perbandingan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan negara ASEAN tidak hanya relevan untuk pembuat kebijakan, tetapi juga penting bagi investor dan pelaku usaha yang ingin melihat posisi strategis Indonesia dalam konteks regional. Dalam jangka panjang, indikator ini akan menentukan arah kebijakan perdagangan, investasi, dan kerja sama antarnegara di kawasan.
Untuk informasi dan analisis ekonomi terkini lainnya, kunjungi portal resmi kami di www.gelanggangnews.com.
