Suhu Bumi kembali mencetak rekor tertinggi dalam sejarah. Fenomena ini mengindikasikan bahwa peristiwa cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi dan berdampak lebih dahsyat di berbagai belahan dunia. Salah satu contohnya terlihat dari bencana banjir dan tanah longsor yang baru-baru ini menghantam pesisir Semenanjung Noto di Jepang.
Menurut laporan The Japan News, insiden yang terjadi pada akhir pekan lalu di Kota Wajima dan Suzu telah menewaskan tujuh orang, menyebabkan lima lainnya hilang, melukai sedikitnya 12 orang, serta memaksa ribuan penduduk mengungsi dari rumah mereka.
Sebagai bentuk respons, otoritas Jepang melalui Badan Meteorologi mengeluarkan peringatan cuaca paling tinggi di Prefektur Ishikawa, menyusul curah hujan ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Fenomena serupa juga melanda kawasan Eropa, seperti yang dicatat The Guardian, saat Badai Boris menyapu Italia setelah merusak Austria, Romania, Ceko, dan Polandia. Ribuan orang harus dievakuasi, terutama di wilayah Emilia-Romagna.
Dikutip dari data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), tahun 2023 ditetapkan sebagai tahun terpanas dalam catatan sejarah. Suhu laut juga meningkat drastis, memicu percepatan mencairnya gletser dan naiknya permukaan laut yang mengancam ekosistem global.
Asia menjadi kawasan paling terdampak perubahan iklim. Dari 79 bencana hidrometeorologi yang tercatat tahun lalu, lebih dari 80 persen adalah banjir dan badai, yang menewaskan lebih dari 2.000 jiwa dan mempengaruhi jutaan orang secara langsung.
Indonesia pun tak luput. BMKG mencatat potensi cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah pada Maret 2024 lalu, mencakup hujan lebat, kilat, hingga angin kencang.
Menurut Celeste Saulo, Sekjen WMO, wilayah Asia mengalami pemanasan yang jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Selain suhu ekstrem, kondisi kekeringan, badai, dan gelombang panas menjadi tantangan nyata.
Untuk mengurangi risiko bencana iklim, pembangunan sistem peringatan dini multibahaya menjadi kebutuhan mendesak. Negara-negara yang sudah menerapkan sistem ini terbukti memiliki tingkat kematian yang jauh lebih rendah saat bencana terjadi.
Namun, upaya teknis saja tidak cukup. Penanggulangan krisis iklim global membutuhkan komitmen kuat untuk mengurangi emisi karbon, mendorong aksi kolektif, dan menyelamatkan generasi mendatang dari bencana yang lebih parah.
Simak informasi selengkapnya seputar krisis iklim global hanya di Gelanggang News.










