Kisah Pilu Pak Slamet: Penjual Dawet yang Gemetar Usai Niat Tulusnya Difitnah di Media Sosial

GelanggangNews – MOJOKERTO – Di balik segarnya segelas dawet yang ia jajakan setiap hari di depan Lapangan Desa Jetis, tersembunyi trauma mendalam yang kini menghantui Slamet Riyadi. Pria berusia 61 tahun itu harus merasakan pahitnya fitnah digital. Niatnya yang sederhana—menyeberangkan seorang siswi di jalan raya yang padat—justru berujung pada tuduhan pelecehan yang viral dan ancaman pembunuhan.

Petaka dari Layar Ponsel

Kamis malam (5/2/2026) menjadi titik balik yang menghancurkan ketenangan hidup Slamet. Sebagai pria yang tidak memiliki smartphone, ia buta akan kegaduhan di jagat maya. Kabar buruk itu datang dari cucunya, Danik (24), yang menunjukkan bagaimana wajah sang kakek telah tersebar luas di grup-grup media sosial dengan narasi yang menyudutkan.

Sebuah akun bernama Knayas Umak diduga menjadi pemantik api fitnah tersebut. Video tuduhan disebar tanpa klarifikasi, memicu kemarahan netizen yang tak terbendung.

Tubuh Gemetar dan Gelas yang Pecah

Luka psikis yang dialami Slamet tak bisa disembunyikan. Danik menceritakan momen memilukan saat kakeknya pulang ke rumah lebih awal pada hari itu. Kondisinya sangat tidak stabil; tubuhnya gemetar hebat akibat syok yang luar biasa.

“Waktu itu kakek sudah pulang siang hari. Tangannya gemetar sampai gelas yang dia bawa jatuh dan pecah dua,” kenang Danik.

Meski batinnya terguncang, Slamet memilih bungkam di hadapan istrinya. Ia tak ingin berita bohong itu memperburuk kondisi sang istri yang sedang berjuang melawan stroke ringan dan sesak napas. Selama tiga hari berikutnya, lapak dawetnya kosong. Slamet mengurung diri karena ketakutan setelah melihat komentar-komentar netizen yang mengancam akan menghabisi nyawanya.

Dedikasi yang Disalahartikan

Padahal, bagi warga sekitar dan siswa SDN setempat, sosok Slamet adalah pelindung. Selama lima tahun berjualan di lokasi yang rawan karena banyaknya kendaraan besar, Slamet sering kali merasa tergerak untuk membantu anak-anak menyeberang jalan.

Seorang pedagang kue yang berjaga di dekat lapaknya bahkan siap menjadi saksi kunci. Ia bersaksi bahwa aksi Slamet membantu anak sekolah adalah rutinitas yang murni didasari ketulusan, tanpa ada niat jahat sedikit pun.

Terungkapnya Kebenaran

Keluarga Slamet tak tinggal diam melihat nama baik kepala keluarga mereka diinjak-injak. Malam itu juga, Danik bersama empat anak Slamet mendatangi rumah orang tua siswi yang ada dalam video tersebut.

Dalam pertemuan yang ditengahi oleh ketua RT setempat, tabir kebenaran akhirnya terbuka. Dipastikan bahwa tidak ada aksi pelecehan seperti yang dituduhkan di media sosial. Fitnah tersebut murni lahir dari kesalahpahaman yang dibesar-besarkan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Keesokan harinya, Jumat (6/2), ibu dari siswi tersebut mendatangi lapak Pak Slamet untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Meski kini Pak Slamet sudah mulai memberanikan diri kembali berjualan, sisa-sisa trauma akibat “hakim massa” di media sosial itu masih membekas nyata.


Pesan Penting: Kasus Pak Slamet adalah cermin betapa tajamnya jempol netizen yang bisa menghancurkan hidup seseorang dalam sekejap tanpa bukti. Pastikan saring sebelum sharing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *