Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah berupaya menurunkan harga tiket pesawat pada periode Lebaran 2025. Saat ini, Kemenhub sedang melakukan diskusi intens dengan sejumlah pihak terkait, termasuk maskapai dan PT Pertamina (Persero).
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyatakan bahwa pihaknya masih dalam tahap perhitungan dan survei untuk menentukan langkah yang paling efektif dalam menurunkan harga tiket pesawat. “Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dan melakukan survei terlebih dahulu. Setelah itu, kami akan mengumumkan hasilnya,” ujar Dudy saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, pada Kamis (24/1/2025).
Salah satu elemen yang mempengaruhi harga tiket pesawat adalah harga avtur. Meskipun belum ada pembicaraan lebih lanjut terkait strategi penurunan harga avtur, Dudy menambahkan bahwa Pertamina telah mengambil langkah untuk menurunkan harga avtur sebesar 7% pada periode Natal dan Tahun Baru 2024/2025. Penurunan harga avtur ini berperan dalam diskon harga tiket pesawat yang dapat mencapai 10%.
“Pada periode Nataru lalu, Pertamina sudah menurunkan harga avtur. Memang harga avtur berpengaruh cukup signifikan terhadap harga tiket pesawat,” jelas Dudy.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan, mengungkapkan beberapa faktor utama yang menyebabkan harga tiket pesawat menjadi mahal. Faktor terbesar adalah harga avtur dan biaya sewa pesawat. Wamildan menjelaskan bahwa harga avtur sendiri menyumbang sekitar 35% dari total harga tiket pesawat, sementara biaya sewa pesawat mencapai 30%. “Biaya sewa pesawat bisa mencapai 300 ribu dolar per bulan untuk satu pesawat. Jadi, kedua komponen ini menjadi faktor utama dalam harga tiket pesawat yang tinggi,” paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V di Gedung DPR RI pada 23 Januari 2025.
Dengan adanya pembicaraan yang terus berlanjut antara Kemenhub, maskapai, dan Pertamina, diharapkan harga tiket pesawat pada Lebaran 2025 bisa lebih terjangkau bagi masyarakat.
Sumber: www.gelanggangnews.com
