Kemenbud: Kiprah Jember Fashion Carnaval sebagai fenomena budaya dunia

Jember – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang kembali digelar dengan megah tahun ini. Dalam pernyataan resminya, Kemenbud menegaskan bahwa kiprah Jember Fashion Carnaval sebagai fenomena budaya dunia bukanlah klaim semata, melainkan fakta yang dibuktikan dengan konsistensi dan pengakuan internasional.

JFC yang telah berlangsung sejak 2001 tidak hanya menjadi ikon kebudayaan lokal Kabupaten Jember, Jawa Timur, tetapi juga mewakili Indonesia di berbagai ajang mode dan budaya global. Gelaran tahun ini, yang bertema “Timelapse Archipelago”, menampilkan lebih dari 3.000 peserta dengan kostum bertema kekayaan budaya nusantara yang dikemas dalam format karnaval jalanan.

Menurut Direktur Jenderal Kebudayaan, Dr. Hilmar Farid, JFC berhasil menunjukkan bahwa seni kostum dan parade bisa menjadi media diplomasi budaya yang efektif. “Kiprah Jember Fashion Carnaval sebagai fenomena budaya dunia tercermin dari keikutsertaan mereka di karnaval-karnaval internasional seperti di Korea, Brasil, hingga Inggris,” ujar Hilmar saat menghadiri pembukaan JFC, Sabtu (10/8).

JFC: Dari Lokal Menjadi Global

JFC diawali dari sebuah inisiatif kecil oleh Dynand Fariz, seorang pencinta fashion dan budaya asal Jember, yang ingin membawa semangat kota kecil ke panggung dunia. Kini, dua dekade kemudian, JFC menjadi salah satu festival budaya paling dinanti, tidak hanya di Indonesia tetapi juga oleh wisatawan mancanegara.

Konsistensi tema, keunikan desain, dan manajemen acara yang profesional membuat JFC masuk dalam radar pengamat budaya dan mode dunia. Banyak yang menyebut bahwa kiprah Jember Fashion Carnaval sebagai fenomena budaya dunia sejalan dengan tren globalisasi budaya, di mana kreativitas lokal menjadi bagian dari wacana internasional.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Selain menjadi panggung budaya, JFC juga memberi dampak signifikan pada ekonomi lokal. Hotel-hotel di Jember penuh selama pekan karnaval, pelaku UMKM meningkat penjualannya, dan industri kreatif setempat seperti tata rias, garmen, serta pengrajin ikut terdongkrak.

Kepala Dinas Pariwisata Jember, Edi Budianto, mengatakan bahwa JFC telah memberi identitas baru bagi kota Jember. “Jember kini dikenal bukan hanya sebagai kota tembakau, tapi juga sebagai pusat karnaval dunia. Ini adalah bentuk kiprah Jember Fashion Carnaval sebagai fenomena budaya dunia yang patut dibanggakan,” ujarnya.

Dukungan Pemerintah dan Rencana ke Depan

Kemenbud memastikan akan terus mendukung JFC sebagai salah satu agenda prioritas dalam diplomasi budaya. Rencana pengembangan JFC ke arah digitalisasi dan kemitraan internasional juga tengah disusun, agar kiprahnya semakin meluas.

Untuk informasi terkini seputar kebudayaan Indonesia dan kegiatan seni lainnya, kunjungi portal berita GELANGGANG NEWS di www.gelanggangnews.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *