Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud) menyebut kiprah Jember Fashion Carnaval sebagai fenomena budaya dunia yang patut diapresiasi dan dilestarikan. Pernyataan ini disampaikan dalam pembukaan Jember Fashion Carnaval (JFC) 2025 yang berlangsung meriah akhir pekan lalu di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Dirjen Kebudayaan Kemenbud, Dr. Ratna Hidayat, menegaskan bahwa JFC bukan sekadar ajang fesyen, tetapi telah menjelma menjadi representasi kekayaan budaya lokal yang mampu tampil di panggung internasional. “Kami melihat kiprah Jember Fashion Carnaval sebagai fenomena budaya dunia karena kemampuannya mengangkat nilai tradisional menjadi ekspresi modern yang spektakuler,” ujarnya dalam sambutannya.
JFC 2025 kembali menampilkan parade kostum unik dan megah bertema “Archipelago Harmony”, yang terinspirasi dari keragaman suku, budaya, dan alam Nusantara. Ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara turut serta dalam perhelatan akbar ini, menjadikan JFC bukan hanya atraksi lokal, tetapi juga magnet wisata dan diplomasi budaya.
Sejak pertama kali digelar pada 2003, JFC terus berkembang dan kini dikenal luas di dunia internasional. Ajang ini telah tampil di berbagai festival budaya global, termasuk di Jepang, India, Korea Selatan, hingga Inggris. Inilah yang memperkuat klaim kiprah Jember Fashion Carnaval sebagai fenomena budaya dunia, sebagaimana ditegaskan oleh Kemenbud.
Pengamat budaya, Eko Prabowo, menyatakan bahwa keberhasilan JFC tidak lepas dari konsistensi dan inovasi dalam menyampaikan narasi budaya melalui busana dan koreografi. “Ini bukan sekadar pawai kostum, melainkan panggung cerita tentang identitas bangsa. Kemenbud sangat tepat menyoroti kiprah Jember Fashion Carnaval sebagai fenomena budaya dunia,” jelasnya.
Pemerintah daerah Jember pun menyatakan komitmennya untuk terus mendukung JFC sebagai agenda tahunan utama yang berdampak pada sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya. Bupati Jember, Indah Wijayanti, menyebut bahwa perhelatan ini mampu meningkatkan kunjungan wisatawan hingga 40% setiap tahun selama pelaksanaannya.

Selain parade, JFC juga menyelenggarakan pelatihan desain kostum, diskusi kebudayaan, dan pertunjukan kolaboratif lintas daerah dan negara. Agenda ini menjadi ruang bertemunya para seniman muda, desainer, serta pelaku kreatif dalam skala nasional dan internasional.
Melalui penyelenggaraan JFC 2025, Kemenbud berharap kiprah ini terus ditingkatkan hingga mendapat pengakuan formal dari lembaga budaya dunia seperti UNESCO. “Kami akan terus mendukung agar kiprah Jember Fashion Carnaval sebagai fenomena budaya dunia bisa tercatat dalam sejarah budaya global,” pungkas Dr. Ratna.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai JFC dan perkembangan budaya Indonesia lainnya, kunjungi www.gelanggangnews.com.












