GELANGGANG NEWS – Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, akhirnya angkat bicara mengenai fenomena keterlibatan pelajar dalam aksi demonstrasi yang berlangsung pada 25 Agustus lalu. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan kepada awak media, Jusuf Kalla beri tanggapan soal siswa yang ikut demo 25 Agustus dengan nada tegas namun bijak, menyoroti pentingnya pendidikan serta pengawasan dari pihak sekolah dan orang tua.
Menurut Jusuf Kalla, keterlibatan siswa dalam aksi protes memang sah dalam konteks demokrasi, namun perlu ada batas dan pertimbangan yang matang. Ia menekankan bahwa anak-anak usia sekolah semestinya fokus pada pendidikan sebagai bekal masa depan, bukan turun ke jalan dalam aksi politik atau sosial yang bisa berisiko.
“Demonstrasi itu adalah hak warga negara, termasuk menyuarakan pendapat di muka umum. Tapi kalau siswa ikut demo, kita harus bertanya: apakah itu pilihan sadar atau karena dorongan pihak lain? Ini perlu pengawasan,” ujar Jusuf Kalla dalam keterangannya.
Jusuf Kalla beri tanggapan soal siswa yang ikut demo 25 Agustus setelah munculnya video viral yang menunjukkan sejumlah pelajar berseragam sekolah terlibat dalam barisan demonstran. Aksi ini memicu perdebatan publik soal peran dan tanggung jawab sekolah dalam menjaga pelajar dari keterlibatan dalam aktivitas politik praktis.
Lebih lanjut, Jusuf Kalla mengingatkan bahwa keterlibatan siswa dalam aksi semacam ini bisa berdampak negatif terhadap masa depan mereka. Ia menyoroti pentingnya pendidikan karakter dan penanaman nilai kebangsaan sejak dini, agar siswa mampu menyalurkan aspirasi secara produktif dan aman.
“Jika ingin menyampaikan aspirasi, ada banyak cara yang lebih membangun. Jangan sampai niat baik berubah menjadi kekacauan karena kurangnya bimbingan. Sekolah dan keluarga punya peran sentral dalam hal ini,” tambahnya.
Jusuf Kalla beri tanggapan soal siswa yang ikut demo 25 Agustus juga menjadi perhatian karena menyinggung perlunya regulasi yang lebih ketat dan edukatif dari pihak kementerian terkait. Ia menyarankan agar pemerintah mengevaluasi mekanisme pembinaan terhadap pelajar agar mereka tidak mudah terprovokasi dalam situasi politik yang kompleks.

Meskipun tidak secara langsung menyalahkan para siswa, Jusuf Kalla mendorong semua pihak untuk menjadikan insiden ini sebagai momentum refleksi. Ia menegaskan bahwa pelibatan anak dalam kegiatan politik harus dihindari, kecuali dalam bentuk pendidikan demokrasi yang sesuai usia.
Menutup pernyataannya, Jusuf Kalla beri tanggapan soal siswa yang ikut demo 25 Agustus dengan harapan agar semua pihak bersinergi menciptakan lingkungan belajar yang aman, kondusif, dan bebas dari pengaruh negatif yang dapat mengganggu proses pembentukan karakter generasi muda.
Keterlibatan tokoh nasional seperti Jusuf Kalla dalam merespons isu ini menunjukkan bahwa persoalan siswa dalam demonstrasi bukan hal sepele. Ini adalah peringatan serius agar dunia pendidikan, orang tua, dan pembuat kebijakan lebih peka terhadap dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Untuk informasi terbaru seputar isu pendidikan, kebijakan publik, dan pernyataan tokoh nasional lainnya, kunjungi www.gelanggangnews.com












