Insiden Musaffah 2: Tiga ABK Indonesia Hilang Pasca-Ledakan Kapal di Selat Hormuz

GelanggangNews – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memakan korban. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) melaporkan bahwa tiga Anak Buah Kapal (ABK) berkewarganegaraan Indonesia dinyatakan hilang setelah kapal tugboat Musaffah 2 mengalami ledakan hebat dan tenggelam di perairan strategis Selat Hormuz pada Jumat (6/3/2026).

Insiden ini terjadi di tengah situasi keamanan yang sangat rawan, menyusul konflik bersenjata antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat-Israel yang telah memanas sejak akhir Februari lalu.

Kronologi dan Detail Kejadian

Kapal Musaffah 2 yang mengibarkan bendera Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan meledak sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat. Berdasarkan keterangan dari Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, ledakan tersebut memicu kebakaran besar di atas kapal sebelum akhirnya kapal karam di antara perairan Persatuan Emirat Arab (PEA) dan Oman.

“Berdasarkan informasi saksi mata, kapal sempat terbakar hebat pasca-ledakan. Saat ini otoritas dari kedua negara (UEA dan Oman) tengah menyelidiki penyebab pasti ledakan, apakah murni kecelakaan teknis atau terkait dengan situasi konflik di kawasan tersebut,” ujar Heni dalam pernyataan resminya.

Status Awak Kapal dan Upaya Penyelamatan

Kapal milik perusahaan Safeen Prestige tersebut diketahui membawa total tujuh personil yang terdiri dari warga negara Indonesia, India, dan Filipina. Dari total awak tersebut, empat orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, sementara tiga lainnya masih hilang.

Terkait kondisi khusus warga negara Indonesia, Heni memaparkan detail sebagai berikut:

  • Satu WNI Selamat: Korban berhasil dievakuasi namun menderita luka bakar serius. Saat ini yang bersangkutan sedang menjalani perawatan medis intensif di sebuah rumah sakit di Kota Khasab, Oman.

  • Tiga WNI Hilang: Hingga kini, otoritas setempat masih terus melakukan operasi pencarian di sekitar lokasi tenggelamnya kapal.

  • Satu WNI Lainnya: Terdapat satu WNI tambahan yang berada di lokasi kejadian (di kapal berbeda) yang dilaporkan dalam kondisi aman dan selamat.

Respons Diplomatik dan Imbauan Pemerintah

Pemerintah Indonesia melalui Kemlu terus menjalin koordinasi ketat dengan pihak berwenang di UEA dan Oman, serta berkomunikasi langsung dengan perusahaan pemilik kapal untuk memastikan hak-hak para korban terpenuhi.

Selain mendesak penyelidikan menyeluruh, Kemlu mengeluarkan peringatan keras bagi para pelaut dan WNI yang menetap di wilayah Timur Tengah. Mengingat Selat Hormuz kini menjadi titik panas konflik—di mana Iran secara tegas melarang pelintasan kapal-kapal berafiliasi AS, Israel, dan Eropa—kewaspadaan tinggi menjadi keharusan.

“Kami mengimbau seluruh WNI, khususnya kru kapal yang beroperasi di wilayah konflik, untuk selalu memantau informasi resmi dan menjaga komunikasi aktif dengan Perwakilan RI terdekat,” pungkas Heni.


Analisis Situasi Selat Hormuz

Tragedi Musaffah 2 ini menambah panjang daftar insiden di Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026, wilayah ini menjadi zona berisiko tinggi bagi pelayaran komersial, terutama bagi kapal-kapal yang dianggap memiliki keterkaitan dengan pihak-pihak yang bertikai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *