Jakarta – Hubungan bilateral RI-China masuk umur 75 tahun pada 2025. Momentum ini menjadi tonggak penting dalam sejarah diplomatik antara dua negara besar di kawasan Asia yang terus memperkuat kerja sama di berbagai sektor strategis. Indonesia dan Tiongkok pertama kali menjalin hubungan diplomatik resmi pada tahun 1950, dan sejak itu, relasi keduanya berkembang pesat dari waktu ke waktu.
Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok memperingati 75 tahun hubungan diplomatik dengan serangkaian agenda strategis dan simbolik, termasuk forum ekonomi, pertukaran budaya, dan kunjungan tingkat tinggi. Dalam pidatonya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan bahwa hubungan bilateral RI-China masuk umur 75 tahun merupakan bukti ketahanan hubungan diplomatik yang adaptif dan saling menguntungkan.
“Saat ini kita menyaksikan kemitraan strategis yang kokoh antara Indonesia dan China. Kedua negara sepakat untuk terus memperluas kerja sama, baik dalam bidang perdagangan, investasi, teknologi, hingga pendidikan,” kata Retno dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (25/8).
Kerja sama yang saling menguntungkan menjadi tema utama peringatan tahun ini. Tiongkok tercatat sebagai mitra dagang terbesar Indonesia selama lebih dari satu dekade terakhir. Total nilai perdagangan kedua negara mencapai lebih dari 130 miliar dolar AS pada 2024, dengan kontribusi signifikan dari sektor energi, pertanian, dan manufaktur.
Selain bidang ekonomi, hubungan bilateral RI-China masuk umur 75 tahun juga diwarnai oleh peningkatan kerja sama infrastruktur. Proyek strategis seperti Kereta Cepat Jakarta–Bandung, yang diresmikan pada 2023, menjadi simbol keberhasilan kolaborasi kedua negara. Pemerintah menyebut proyek ini sebagai langkah penting menuju konektivitas regional yang efisien.
Di sektor pendidikan, ribuan pelajar Indonesia kini menempuh studi di berbagai universitas di China, sementara pertukaran pelajar dan pengajar semakin aktif. Kedua negara juga mendorong kolaborasi penelitian dan inovasi untuk menjawab tantangan global, termasuk perubahan iklim dan transformasi digital.

Namun, di tengah kerja sama yang erat, pemerintah Indonesia tetap menekankan pentingnya kedaulatan nasional dan kesetaraan dalam menjalin relasi. “Kami ingin memastikan bahwa hubungan ini tidak hanya saling menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara berdaulat dan bermartabat,” tegas Retno.
Dengan hubungan bilateral RI-China masuk umur 75 tahun, kedua negara menegaskan kembali komitmen untuk menjaga stabilitas regional dan membangun masa depan bersama yang lebih inklusif. Penguatan dialog diplomatik dan pertukaran antar masyarakat akan terus menjadi fondasi utama hubungan ini ke depan.
Sebagai catatan, sejumlah agenda lanjutan akan digelar sepanjang akhir 2025 untuk merayakan usia ke-75 tahun hubungan ini, termasuk Konferensi Kemitraan Strategis Regional dan Festival Budaya Tiongkok-Indonesia yang akan diadakan di Jakarta dan Beijing.
Untuk informasi lengkap seputar perkembangan kerja sama luar negeri dan diplomasi Indonesia, kunjungi www.gelanggangnews.com

