GELANGGANG NEWS – Hari pertama distribusi bantuan kemanusiaan yang didukung Amerika Serikat di Jalur Gaza berujung ricuh. Ribuan warga yang kelaparan menyerbu pusat distribusi di Rafah, mengabaikan peringatan kelompok Hamas agar menjauhi lokasi.
Insiden ini terjadi setelah berminggu-minggu warga Gaza mengalami kelangkaan makanan akibat blokade ketat. Tentara Israel yang mengamankan lokasi melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan kerumunan yang mulai tidak terkendali.
Distribusi ini dilakukan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), inisiatif baru yang digagas AS dan Israel, dengan tujuan menyalurkan bantuan secara langsung ke masyarakat sipil tanpa melalui Hamas. Namun, langkah ini menuai kritik dari organisasi internasional seperti PBB, yang menilai pendekatan tersebut rawan disalahgunakan untuk kepentingan politik dan militer.
GHF juga menggandeng perusahaan lokal “Three Brothers”, yang punya rekam jejak kontroversial karena kedekatannya dengan pejabat Israel. Selain tantangan logistik, sistem pendistribusian juga menggunakan teknologi pengenalan wajah, yang memicu kekhawatiran akan potensi penyalahgunaan data pribadi warga Palestina.
Sementara itu, kebutuhan di lapangan masih sangat besar. Dari total sekitar 2,3 juta penduduk Gaza, hanya sekitar 8.000 kotak bantuan yang berhasil didistribusikan sejauh ini—angka yang jauh dari cukup untuk mengatasi kelaparan massal.
Situasi diperparah dengan tindakan keras dari Hamas, yang dilaporkan mengeksekusi empat orang yang dituduh menjarah bantuan serta berseteru dengan tokoh lokal yang mendukung inisiatif distribusi AS.
Distribusi bantuan ini mencerminkan kondisi darurat kemanusiaan di Gaza yang masih jauh dari kata aman dan stabil.
🔗 Baca berita selengkapnya dan perkembangan terbaru lainnya hanya di: https://gelanggangnews.com
