Konflik bersenjata antara Iran dan Israel terus mengerek harga minyak mentah global, memicu keresahan pasar energi dunia dan mendorong risiko inflasi di berbagai negara.
Konflik ini telah mengganggu operasi kilang minyak dan fasilitas ekspor utama di kedua negara. Iran menghentikan pengiriman dari Pulau Kharg, terminal ekspor utamanya, sedangkan Israel menonaktifkan beberapa ladang gas lepas pantai. Alhasil, pasar global langsung merespons dengan lonjakan harga signifikan.
Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi Sejak Awal Tahun
Minyak Brent naik ke US$78,50 per barel, naik lebih dari 13% dalam sepekan terakhir.
Minyak WTI turut melonjak ke US$74,84, tertinggi sejak Februari 2025.
Analis mencatat bahwa kondisi ini mencerminkan premi risiko geopolitik yang makin tinggi. Jika ketegangan meningkat dan mengancam jalur vital seperti Selat Hormuz, harga bisa melonjak hingga US$100–120 per barel.
Harga energi di dalam negeri, terutama BBM nonsubsidi, berpotensi naik jika harga minyak mentah dunia bertahan di atas US$75 per barel. Situasi ini juga bisa mengganggu agenda pemangkasan suku bunga oleh bank sentral, termasuk The Fed, karena tekanan inflasi kian besar.
Pakar energi mengingatkan bahwa gangguan pasokan ini berpotensi melumpuhkan stabilitas energi global jika tidak ada deeskalasi dalam waktu dekat.
Dapatkan liputan lengkap dan analisis tajam seputar konflik dan dampaknya hanya di
www.gelanggangnews.com

