Pemerintah Iran kembali mengangkat wacana pemindahan ibu kota dari Teheran ke wilayah Makran di pesisir Teluk Oman. Rencana ini muncul sebagai respons terhadap berbagai permasalahan yang semakin membebani Teheran, seperti kemacetan lalu lintas yang kronis, polusi udara yang parah, keterbatasan sumber daya air, serta penurunan permukaan tanah akibat faktor alam dan aktivitas manusia.
Wacana pemindahan ibu kota sebenarnya telah dibahas sejak Revolusi 1979, namun selalu terbentur kendala finansial dan logistik yang besar. Presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian, yang mulai menjabat pada Juli 2024, kembali mengusulkan langkah ini sebagai solusi terhadap permasalahan yang terus memburuk di Teheran. Ia menekankan perlunya kebijakan strategis untuk mengurangi tekanan terhadap kota tersebut.
Pada Januari 2025, juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengonfirmasi bahwa opsi pemindahan ibu kota tengah dikaji secara serius, dengan Makran sebagai salah satu lokasi utama yang dipertimbangkan. Namun, ia belum memberikan kepastian mengenai waktu pelaksanaan rencana tersebut.
Makran merupakan wilayah pesisir yang masih minim pembangunan dan terbentang di Provinsi Sistan-Baluchistan serta sebagian Provinsi Hormozgan. Pemerintah Iran melihat kawasan ini sebagai lokasi potensial untuk pusat pemerintahan dan ekonomi di masa depan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pidatonya pada 16 Februari 2025, menyebut Makran sebagai “surga yang hilang” yang harus dikembangkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi negara.

Pada September 2024, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak punya alternatif selain memindahkan pusat politik dan ekonomi ke wilayah selatan yang lebih dekat dengan laut. Ia juga menyebut bahwa tantangan yang dihadapi Teheran akan semakin berat jika tidak ada perubahan kebijakan. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Iran pada April 2024 memperkirakan bahwa proyek pemindahan ibu kota ini dapat memerlukan anggaran sekitar 100 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 1,63 kuadriliun.
Teheran telah menjadi ibu kota Iran sejak 1786, ketika Agha Mohammad Khan Qajar menetapkannya sebagai pusat pemerintahan. Sejak saat itu, kota ini berkembang menjadi pusat politik, administratif, dan budaya Iran. Saat ini, wilayah metropolitan Teheran dihuni sekitar 18 juta jiwa, dengan lonjakan populasi harian mencapai dua juta orang akibat arus masuk pekerja dari daerah sekitarnya.
Sebagai kota yang berada di dataran tinggi dekat Pegunungan Alborz, Teheran memiliki lanskap yang unik dengan kombinasi gedung-gedung modern, istana bersejarah, pasar tradisional, serta taman-taman hijau. Sementara itu, Makran lebih dikenal dengan desa-desa nelayannya, pantai berpasir yang indah, serta sejarah panjang yang berakar sejak zaman Alexander Agung. Jika benar-benar terwujud, pemindahan ibu kota ini akan menjadi salah satu perubahan geopolitik terbesar dalam sejarah Iran.
Sumber: www.gelanggangnews.com
