Rusia-AS Bentuk Tim Perundingan untuk Akhiri Perang Ukraina Setelah Pertemuan di Arab Saudi

Amerika Serikat dan Rusia sepakat untuk membentuk tim perundingan guna mencari solusi mengakhiri perang di Ukraina. Kesepakatan ini dicapai setelah pertemuan di Riyadh, Arab Saudi, yang menjadi dialog tingkat tinggi pertama antara Washington dan Moskwa sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Keputusan ini memicu kekhawatiran di Eropa, terutama karena beberapa pemimpin menganggap kebijakan baru Presiden AS Donald Trump terhadap Rusia berpotensi mengubah lanskap keamanan benua itu. Mereka khawatir Washington akan memberikan kelonggaran besar kepada Moskwa dalam negosiasi ini.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam fakta bahwa negaranya tidak diundang dalam pertemuan tersebut. Ia menegaskan bahwa proses perundingan harus dilakukan secara adil dan melibatkan negara-negara Eropa, termasuk Turki, yang telah menawarkan diri sebagai tuan rumah pembicaraan.

“Ini hanya akan menguntungkan Putin,” ujar seorang pejabat senior Ukraina yang enggan disebutkan namanya, merujuk pada dimulainya negosiasi tanpa keterlibatan Kyiv.

Di sisi lain, Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan dapat segera tercapai. Ia mengatakan kepada wartawan di Mar-a-Lago bahwa dirinya memiliki pengaruh besar untuk mengakhiri perang ini. Namun, Trump juga mengkritik Ukraina karena mengeluhkan tidak diundang ke perundingan di Riyadh.

“Sudah tiga tahun Anda berperang. Seharusnya sejak awal kalian bisa mencapai kesepakatan,” ujar Trump.

Rusia-AS Bentuk Tim Perundingan untuk Akhiri Perang Ukraina Setelah Pertemuan di Arab Saudi

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov sepakat untuk menunjuk delegasi masing-masing guna mempercepat perundingan damai. Selain itu, kedua negara juga sepakat untuk membentuk mekanisme konsultasi yang bertujuan meredakan ketegangan dalam hubungan bilateral mereka.

Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri Presiden Rusia Vladimir Putin, mengonfirmasi pembentukan tim negosiasi ini. Namun, ia menegaskan bahwa belum ada kepastian mengenai jadwal pertemuan langsung antara Putin dan Trump. Meskipun demikian, Trump mengindikasikan kemungkinan pertemuan dengan Putin sebelum akhir bulan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Perundingan di Riyadh menjadi terobosan diplomatik bagi Rusia setelah bertahun-tahun mengalami isolasi di bawah kebijakan pemerintahan AS sebelumnya. Negosiator ekonomi Moskwa, Kirill Dmitriev, bahkan menyebut upaya Barat untuk mengisolasi Rusia telah gagal.

Lavrov menambahkan bahwa perundingan dengan AS kali ini menunjukkan adanya pemahaman yang lebih baik terhadap posisi Rusia. Ia juga menegaskan bahwa Moskwa menolak pengerahan pasukan NATO ke Ukraina sebagai bagian dari potensi gencatan senjata yang sedang dibahas.

Kesepakatan antara AS dan Rusia ini memicu berbagai reaksi di panggung internasional. Meskipun menandai langkah maju dalam diplomasi, absennya Ukraina dan negara-negara Eropa dalam perundingan utama menimbulkan pertanyaan besar mengenai arah negosiasi ini ke depannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *