Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tengah dilanda bencana alam berupa banjir besar yang mempengaruhi kehidupan lebih dari 100 ribu jiwa di 14 kecamatan. Kejadian yang dimulai pada Selasa (11/2) ini menyebabkan ribuan rumah terendam air, mengakibatkan akses jalan terputus, serta mengganggu berbagai aktivitas masyarakat, baik di sektor perkantoran, pendidikan, hingga kehidupan sehari-hari.
Banjir yang datang dengan cepat tersebut menggenangi wilayah-wilayah yang biasanya aman dari bencana serupa, seperti kecamatan Turikale, Maros Baru, Lau, Marusu, hingga Bantimurung. Sejumlah daerah lain yang terdampak di antaranya adalah Camba, Tanralili, Tompobulu, Mandai, Bontoa, Cenrana, dan Mallawa. Tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama terjadinya bencana ini.
Bupati Maros, Chaidir Syam, dalam pernyataannya menyebutkan bahwa meskipun situasi sangat mengkhawatirkan, pihaknya terus berupaya untuk menangani dampak yang ditimbulkan. “Kami telah mendirikan dapur umum di semua kantor kecamatan. Di pusat bantuan utama yang terletak di Islamic Center Maros, kami juga memprioritaskan distribusi bantuan untuk daerah yang sulit dijangkau,” ungkap Chaidir.
Untuk memastikan penyaluran bantuan berjalan lancar, pemerintah daerah menginstruksikan kepada setiap camat dan kepala desa untuk segera mendirikan posko-posko bencana di wilayah masing-masing. Hal ini bertujuan agar warga yang terisolasi akibat banjir bisa segera mendapat pertolongan.
Selain itu, Pemkab Maros juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk mempercepat evakuasi dan distribusi logistik, khususnya ke daerah-daerah terpencil yang terendam lebih dalam. Chaidir menambahkan, “Kami juga memberikan perhatian khusus kepada warga yang membutuhkan evakuasi, seperti ibu hamil, bayi, dan anak-anak yang perlu segera dibawa ke tempat aman.”
Dalam upaya ini, Bupati Maros juga mengapresiasi kinerja tim penyelamat dan relawan yang bekerja tanpa mengenal lelah. “Alhamdulillah, meskipun banjir ini cukup parah, hingga kini belum ada laporan mengenai korban jiwa. Kami terus melakukan penyisiran dan pemantauan untuk memastikan keselamatan warga,” lanjutnya.

Selain merendam pemukiman, banjir juga memutuskan akses jalan utama di sejumlah titik, salah satunya Jalan Poros Trans Sulawesi yang terletak di depan Kantor Bupati Maros. Ketinggian air yang mencapai lutut orang dewasa menyebabkan arus lalu lintas terhambat total, memaksa kendaraan dan warga yang melintas untuk mencari jalan alternatif. Kasat Samapta Polres Maros, AKP Yiyi Suhartin, melaporkan bahwa banjir di ruas jalan tersebut diperkirakan mencapai panjang 500 meter.
Pemerintah Kabupaten Maros berharap dengan adanya upaya penyelamatan, pemulihan, dan distribusi bantuan yang dilakukan secara cepat, masyarakat dapat segera bangkit dari bencana ini. Warga pun diimbau untuk tetap waspada, mengingat kondisi cuaca yang masih berpotensi mengakibatkan hujan lebat dan banjir susulan.
Sumber: www.gelanggangnews.com
