Korea Utara mengungkapkan rasa marahnya setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang baru, Marco Rubio, menyebut negara tersebut sebagai “negara jahat”. Pernyataan ini disampaikan oleh Rubio dalam sebuah wawancara radio beberapa waktu lalu, di mana ia mengkritik beberapa negara yang dianggap sebagai ancaman serius bagi dunia. Dalam wawancara itu, Rubio menggolongkan Korea Utara dan Iran sebagai “negara jahat” yang perlu dihadapi dalam pengambilan keputusan kebijakan luar negeri AS.
Menanggapi pernyataan tersebut, Kementerian Luar Negeri Korea Utara merilis sebuah pernyataan yang menyebut bahwa komentar Rubio bukan hanya tidak berdasar, tetapi juga merupakan serangan terhadap kedaulatan negara mereka. “Apa yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS hanyalah omong kosong dan permusuhan belaka. Menyebut Korea Utara sebagai negara jahat adalah tindakan yang sangat tidak bijaksana,” demikian bunyi pernyataan resmi dari Pyongyang yang dikutip oleh AFP.
Korea Utara menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam terhadap segala bentuk penghinaan atau provokasi yang datang dari Amerika Serikat. Dalam pernyataan tersebut, pihak Korut juga menekankan bahwa mereka akan segera mengambil langkah balasan yang keras terhadap provokasi ini. Sebagai negara berdaulat, Korea Utara menyatakan tidak akan mentoleransi tindakan yang dapat merusak citra dan martabat mereka di hadapan dunia internasional.
Pernyataan Rubio ini sendiri mendapat perhatian luas karena mengingatkan banyak pihak akan ketegangan lama antara Korea Utara dan Amerika Serikat. Kecaman ini juga menjadi respons pertama Pyongyang terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump yang baru dilantik pada 20 Januari 2025. Sebelumnya, Presiden Trump sempat menyatakan keinginannya untuk kembali menghubungi pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Trump juga pernah memuji Kim Jong Un sebagai “orang pintar” dalam salah satu komentarnya.

Namun, meskipun ada tanda-tanda bahwa Trump berusaha melanjutkan hubungan diplomatik dengan Korea Utara, pihak Pyongyang menegaskan bahwa mereka tidak akan melunak terkait program nuklirnya. Korea Utara bahkan mengungkapkan bahwa mereka akan terus mengembangkan program nuklirnya tanpa ada batasan atau kompromi lebih lanjut, terlepas dari ajakan dialog dari Washington.
Selain itu, pihak Korea Utara juga menanggapi kebijakan AS terkait pengembangan sistem pertahanan rudal yang baru. Menurut Korut, langkah ini semakin memicu ketegangan regional dan dapat memperburuk keadaan, memicu perlombaan senjata di kawasan Asia Timur. Korea Utara menegaskan bahwa mereka akan mengambil langkah-langkah untuk memperkuat kemampuan pertahanan mereka sebagai respons terhadap langkah-langkah militer AS yang dinilai provokatif.
Sementara itu, beberapa ahli menyatakan bahwa meskipun Trump menyuarakan keinginannya untuk berdiplomasi dengan Kim Jong Un, fokus Korea Utara saat ini lebih condong pada masalah domestik dan ketegangan di luar negeri, terutama terkait dengan perang yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina. Oleh karena itu, para pengamat memprediksi bahwa saat ini bukan waktu yang tepat bagi Pyongyang untuk kembali menjalin dialog dengan Washington dalam waktu dekat.
Pernyataan yang dilontarkan Rubio dan respons keras dari Korea Utara ini hanya menambah ketegangan antara kedua negara, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Seiring dengan perkembangan situasi ini, dunia internasional akan terus memantau apakah ada perubahan dalam kebijakan luar negeri AS terhadap Korea Utara, atau apakah ketegangan ini akan terus meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Sumber: www.gelanggangnews.com
