Kantor Investigasi Korupsi Korea Selatan (CIO) kini tengah menghadapi gelombang kritik setelah dianggap gagal dalam menjalankan tugasnya menyelidiki Presiden Yoon Suk Yeol, yang tengah tersandung kasus pemberontakan. CIO sebelumnya mengajukan permintaan kepada Kepolisian Nasional Korsel untuk menangkap Yoon atas dugaan keterlibatannya dalam deklarasi darurat militer yang dilakukan pada 3 Desember.
Namun, permintaan tersebut justru memicu berbagai kecaman. Polisi Korsel menilai langkah CIO itu tidak sesuai dengan hukum yang berlaku. Baek, seorang pejabat kepolisian, mengungkapkan bahwa setelah dilakukan evaluasi internal, mereka menyimpulkan bahwa permintaan dari badan anti-korupsi itu tidak sah. “Kami menilai permintaan dari CIO adalah tindakan yang kontroversial secara hukum,” kata Baek, sebagaimana dikutip dari Korea Times.
Pihak kepolisian juga menegaskan akan terus melakukan konsultasi dengan CIO terkait pelaksanaan surat perintah penangkapan untuk memastikan segala prosedur dilakukan sesuai aturan. Kritik yang sama juga datang dari tim hukum Presiden Yoon yang dipimpin oleh Yun Gap Keun. Yun menyebut bahwa langkah CIO untuk melibatkan kepolisian seperti itu tidak hanya salah secara hukum, tetapi juga mencerminkan kelemahan lembaga tersebut. “Perilaku CIO yang tidak memiliki dasar hukum ini menimbulkan keraguan serius tentang kapasitas mereka sebagai lembaga negara,” tegas Yun.

Tak hanya polisi dan tim hukum Yoon yang melontarkan kritik, partai yang tengah berkuasa, People Power Party (PPP), juga memberikan kecaman tajam terhadap CIO. Juru bicara PPP, Shin Dong Wook, menilai bahwa langkah CIO menunjukkan ketidakmampuan dan ketidakhormatan terhadap prinsip-prinsip hukum dasar negara. “Tindakan ini jelas mencerminkan kelemahan lembaga yang tak kompeten dan merusak tatanan hukum serta konstitusionalisme yang seharusnya dijaga,” kata Shin dengan tegas.
Sementara itu, kritikan terhadap CIO semakin menguat setelah mereka gagal menangkap Presiden Yoon dalam beberapa minggu terakhir. Yoon Suk Yeol sendiri kini menghadapi tuduhan pemberontakan akibat keputusan untuk menerapkan darurat militer yang menuai kontroversi. Di samping itu, status Yoon sebagai presiden kini masih menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi Korea Selatan, yang tengah menilai apakah pemakzulan terhadap Yoon sah atau tidak. Jika pemakzulan itu disahkan, Yoon akan dipaksa mundur dari jabatannya, tetapi jika sebaliknya, dia akan kembali memegang tampuk kekuasaan.
Kisruh ini semakin mempersulit situasi politik di Korea Selatan, di mana berbagai lembaga negara saling berhadapan dalam kasus yang sangat menguji kestabilan pemerintahan. Peran CIO dalam penyelidikan ini jelas telah memicu banyak pertanyaan tentang batas kewenangan dan kompetensi lembaga tersebut dalam menangani kasus besar yang melibatkan seorang presiden.
Sumber: www.gelanggangnews.com

