GelanggangNews – JAKARTA – Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyampaikan bahwa negaranya memasuki fase baru menuju “kesepakatan permanen” setelah gencatan senjata selama 10 hari dalam perang Israel-Hizbullah mulai berlaku. Aoun menegaskan bahwa negaranya bukan lagi “arena untuk perang siapa pun”.
Dilansir AFP, Sabtu (18/4/2026), hal itu disampaikan Aoun dalam pidato yang ditujukan kepada rakyat Lebanon dengan menyinggung kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran. Sehari setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata, Aoun menyatakan bahwa negaranya bukan lagi arena perang bagi pihak mana pun.
Lebanon terseret ke dalam konflik Timur Tengah pada 2 Maret ketika Hizbullah menyerang Israel. Israel menanggapi serangan tersebut dengan melancarkan serangan bertubi-tubi ke Lebanon serta melakukan operasi darat yang menewaskan hampir 2.300 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.
“Sekarang, kita semua berada di hadapan fase baru,” kata Aoun dalam pidato pertamanya kepada bangsa sejak gencatan senjata berlaku.
“Ini adalah fase transisi dari upaya mencapai gencatan senjata menuju upaya mencapai kesepakatan permanen yang melindungi hak-hak rakyat kita, persatuan tanah air kita, dan kedaulatan bangsa kita,” lanjutnya.
Ia mengatakan bahwa Pemerintah Lebanon telah “merebut kembali Lebanon dan kekuasaan pengambilan keputusan untuk pertama kalinya” dalam hampir setengah abad.
“Hari ini, kita bernegosiasi untuk diri kita sendiri. Kita bukan lagi pion dalam permainan siapa pun, atau arena untuk perang siapa pun, dan kita tidak akan pernah menjadi seperti itu lagi,” tegasnya.
Sejak Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam dilantik tahun lalu, Beirut mengambil beberapa keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Hizbullah, termasuk komitmen untuk melucuti senjata kelompok tersebut pada bulan Agustus setelah gencatan senjata November 2024. Pemerintah juga melarang aktivitas militer kelompok tersebut setelah dimulainya perang terbaru bulan lalu.

