GelanggangNews – Dunia sains kembali diguncang temuan luar biasa. Para ilmuwan berhasil menemukan bentuk kehidupan mikroba yang bertahan hidup di celah batuan purba yang diperkirakan berusia sekitar dua miliar tahun. Penemuan ini menantang pemahaman lama tentang batas kemampuan makhluk hidup untuk bertahan dalam kondisi ekstrem.
Kehidupan mikroba tersebut ditemukan jauh di bawah permukaan bumi, terperangkap di dalam retakan batuan keras yang nyaris terisolasi sepenuhnya dari lingkungan luar. Tanpa cahaya matahari, tanpa oksigen bebas, dan minim nutrisi, mikroorganisme ini tetap mampu bertahan hidup selama waktu yang sangat panjang.
Para peneliti mengungkapkan bahwa mikroba tersebut memperoleh energi bukan dari fotosintesis, melainkan dari reaksi kimia antara air dan mineral batuan di sekitarnya. Proses geokimia ini menghasilkan energi dalam jumlah sangat kecil, namun cukup untuk menopang kehidupan pada skala mikro selama jutaan hingga miliaran tahun.
Temuan ini menjadi bukti bahwa kehidupan di Bumi jauh lebih tangguh dan adaptif daripada yang sebelumnya diperkirakan. Lingkungan yang selama ini dianggap steril dan tidak layak huni ternyata dapat menjadi rumah bagi ekosistem mikroba yang stabil dan bertahan lama.
Lebih jauh, penemuan ini memiliki implikasi besar bagi pencarian kehidupan di luar Bumi. Jika mikroorganisme dapat bertahan di celah batu purba tanpa sinar matahari, maka peluang adanya kehidupan di planet atau bulan lain dengan kondisi ekstrem, seperti Mars atau satelit es di tata surya, semakin terbuka.
Para ilmuwan menilai penelitian ini juga dapat membantu mengungkap misteri asal-usul kehidupan di Bumi, terutama pada masa awal ketika kondisi lingkungan planet ini masih sangat keras. Studi lanjutan akan dilakukan untuk memahami bagaimana mikroba tersebut berevolusi dan bertahan dalam keterbatasan ekstrem selama miliaran tahun.
Ikuti perkembangan terbaru sains dan teknologi hanya di Gelanggang News:
https://gelanggangnews.com/













