PALEMBANG — Nuansa merah-putih mulai mengisi berbagai sudut Kota Palembang menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025. Semangat nasionalisme terlihat dari mulai maraknya penjualan bendera dan pernak-pernik Agustusan di sejumlah titik strategis, baik di kawasan Seberang Ulu maupun Seberang Ilir.
Para pedagang musiman ini kembali menggantungkan harapan mereka kepada momentum tahunan ini. Dari bendera segitiga, umbul-umbul, panji, hingga bendera latar belakang ukuran besar, semuanya mulai ditawarkan dengan beragam harga, menyesuaikan permintaan masyarakat dan kebutuhan instansi.
Lapak Mulai Ramai, Pembeli Masih Tunggu Gajian
Salah satu pedagang, Dadang, yang setiap tahun menjajakan bendera di kawasan depan Gedung DPRD Sumsel, Jalan POM IX, mengaku mulai membuka lapaknya sejak Senin, 28 Juli 2025. Meski masih sepi pembeli, ia tetap optimistis penjualan akan meningkat jelang pertengahan Agustus.
“Ini sudah hari keempat berjualan. Walaupun baru satu dua yang beli, tapi biasanya mulai ramai tanggal 4 atau 5 Agustus, pas orang-orang sudah gajian,” ujarnya, Kamis (31/7/2025).
Dadang menyebutkan bahwa berbagai jenis bendera dijualnya dengan harga yang bervariasi. Untuk bendera standar, harganya berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 75 ribu, tergantung ukuran. Sementara umbul-umbul dijual dengan harga Rp 24 ribu per potong.
Meski pernah mengalami penjualan buruk pada tahun lalu, ia tetap berharap tahun ini masyarakat akan lebih sadar akan pentingnya mengibarkan bendera di depan rumah atau tempat usaha.
“Tahun lalu saya sampai bawa pulang 3 dari 7 karung bendera yang saya bawa dari Garut. Itu parah sekali. Mudah-mudahan tahun ini lebih baik, apalagi pemerintah sudah mengimbau masyarakat untuk pasang bendera,” ujarnya.
Harapan Datang dari Instansi dan RT
Sebagian besar pembeli biasanya berasal dari kantor pemerintahan, sekolah, dan pengurus RT/RW. Menurut Dadang, permintaan tertinggi biasanya terjadi satu minggu sebelum hari H.
“Kalau instansi biasanya beli untuk dekorasi kantor. Tahun ini kami berharap ada peningkatan penjualan, apalagi banyak acara kemerdekaan digelar seperti festival, lomba, sampai karnaval,” tambahnya.
Di sisi lain, di kawasan Seberang Ulu, pedagang lain bernama Rahel (20) juga mulai membuka lapak sejak hari yang sama. Ia menjaga lapak warisan orang tuanya di depan Kantor Badan Kepegawaian Negara (BKN), Jalan Gubernur H Bastari.
Rahel mengaku telah menjual sekitar lima bendera per hari, meskipun puncak penjualan biasanya terjadi mulai tanggal 10 Agustus ke atas.
“Biasanya yang beli itu ketua RT, buat lingkungan. Paling banyak dicari itu umbul-umbul dan panji. Kalau yang untuk dekorasi besar, itu pembelinya lebih spesifik,” ucap Rahel.
Harga yang ditawarkan juga beragam. Umbul-umbul dibanderol Rp 25 ribu, panji Rp 30 ribu, dan bendera background besar bisa mencapai Rp 400 ribu. Untuk bendera rumah tangga dan truk, ia menjual mulai dari Rp 20 ribu, sedangkan ukuran paling besar, 180×120 cm, dihargai Rp 80 ribu.
Bendera Palestina Ikut Terpajang, Bentuk Solidaritas
Menariknya, di lapak Dadang terlihat dua bendera Palestina terpajang berdampingan dengan bendera merah putih. Meski bukan bendera nasional Indonesia, Dadang menegaskan bahwa itu adalah simbol solidaritas terhadap rakyat Palestina yang masih berjuang menghadapi krisis kemanusiaan.
“Ini bentuk dukungan saya sebagai sesama muslim. Tidak semua orang beli, tapi ada juga yang tanya dan tertarik. Yang penting niat kita jelas, untuk saudara-saudara kita di sana,” ungkapnya.
Meski sempat muncul kabar bahwa sejumlah pengemudi truk menolak memasang bendera merah putih di kendaraan mereka, hal itu tidak menyurutkan semangat para pedagang. Baik Rahel maupun Dadang mengaku tetap optimistis bahwa setiap orang memiliki cara sendiri untuk menunjukkan cinta pada tanah air.
“Rejeki tidak akan tertukar. Kalau bukan sopir truk yang beli, ya mungkin warga atau RT yang beli. Kita tetap semangat jualan,” tutup Rahel.
Untuk informasi nasional dan daerah lainnya, kunjungi www.gelanggangnews.com







