Medan  

Air Danau Toba Keruh, Ini Penjelasan Guru Besar USU soal Limbah dan Fenomena Alam

Medan, www.gelanggangnews.com – Air Danau Toba di wilayah Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, dilaporkan mengalami perubahan drastis dalam beberapa waktu terakhir. Air yang biasanya jernih berubah menjadi keruh, memicu kekhawatiran warga serta kematian massal ikan di kawasan tersebut.

Prof. Ternala Alexander Barus, Guru Besar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara (USU), menjelaskan bahwa berdasarkan hasil uji sampel air yang dilakukan pada 22 Juli 2025, ada dua penyebab utama di balik fenomena ini: faktor alam dan pencemaran limbah.

Faktor Alam: Turnover Air Akibat Angin Kencang

Dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi GelanggangNews, Prof. Ternala menyebut bahwa pada musim kemarau panjang, angin kencang yang melanda kawasan Danau Toba memicu turnover—yakni peristiwa ketika air dari dasar danau naik ke permukaan.

“Air dari bagian bawah danau membawa serta endapan lumpur dan senyawa kimia beracun yang ikut terbawa ke atas,” ujarnya.

Hal ini, menurutnya, menjadi pemicu rendahnya kadar oksigen di permukaan air dan menyebabkan gangguan pernapasan pada ikan, terutama yang dibudidayakan dalam keramba jaring apung maupun yang hidup bebas.

Limbah Domestik dan Keramba Jadi Biang Pencemaran

Lebih jauh, Prof. Ternala menegaskan bahwa limbah cair domestik yang dibuang langsung ke danau tanpa pengolahan melalui IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) menjadi sumber pencemar utama. Selain itu, praktik budidaya ikan keramba jaring apung juga berkontribusi besar melalui sisa pakan yang mengendap di dasar danau.

“Sisa pakan tersebut terurai secara anaerob, menghasilkan senyawa toksik dan meningkatkan kadar nutrien seperti nitrogen dan fosfor di danau,” tambahnya.

Data dari penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kandungan total fosfor di Danau Toba mencapai 23,03 µg/l, jauh di atas batas baku mutu 10 µg/l. Ini menunjukkan bahwa Danau Toba kini dalam kondisi eutrofik, yaitu mengalami kelebihan nutrien yang bisa merusak ekosistem perairan.

Ancaman Serius Bagi Ekosistem dan Kehidupan Masyarakat

Tak hanya soal air keruh dan kematian ikan, Ternala juga menyoroti bahwa kerusakan lahan di sekitar Danau Toba memperparah kondisi. Perambahan hutan dan kebakaran telah menyebabkan erosi dan sedimentasi tinggi yang mempercepat masuknya partikel tanah ke danau.

“Jika tidak segera ditangani, kerusakan ini akan mengancam keberlanjutan Danau Toba dan kehidupan masyarakat di sekitarnya,” pungkasnya.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pun telah mengambil langkah dengan melakukan pengambilan sampel lanjutan guna meneliti lebih lanjut penyebab keruhnya air di Danau Toba.


📌 Pantau terus berita lingkungan dan isu daerah hanya di www.gelanggangnews.com — informasi terpercaya dari sumber kredibel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *