Harga beras di Indonesia kembali mengalami kenaikan, bahkan di tingkat penggilingan yang biasanya menjadi indikator awal gejolak harga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras di tingkat penggilingan pada Juni 2025 tercatat naik sebesar 2,05% secara bulanan (month-to-month) dan 3,62% secara tahunan (year-on-year), dengan harga rata-rata mencapai Rp 12.994 per kilogram. Kenaikan ini kemudian merambat ke tingkat grosir dan eceran.
Namun, kenaikan harga ini terjadi dalam kondisi yang terbilang janggal: pasokan beras nasional sebenarnya masih melimpah, terutama dari cadangan Bulog yang diklaim mencapai sekitar 4 juta ton. Maka, muncul pertanyaan besar: siapa biang kerok di balik kenaikan harga beras ini?
Penyesuaian Harga Gabah oleh Pemerintah
Salah satu pemicu utama adalah penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen. Pemerintah menaikkan HPP menjadi Rp 6.500 per kilogram, dengan tujuan memberikan insentif lebih kepada petani. Namun, efek domino langsungnya adalah peningkatan harga gabah di tingkat petani, yang kemudian turut mendorong harga di penggilingan.
Penggilingan padi, sebagai penghubung antara petani dan pasar, harus menyesuaikan harga berasnya agar tetap mendapatkan margin keuntungan. Maka tak heran, harga beras dari penggilingan pun ikut naik.
Krisis Pasokan Gabah Pasca Panen Raya
Wilayah-wilayah sentra pertanian seperti Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) mengalami penurunan pasokan gabah setelah panen raya berakhir. Dengan stok gabah yang menurun, penggilingan menghadapi keterbatasan bahan baku, yang kemudian memicu persaingan harga dan kenaikan di hulu distribusi beras.
Kenaikan Biaya Produksi dan Distribusi
Faktor lain yang turut memperparah situasi adalah naiknya biaya operasional penggilingan, seperti tarif listrik, bahan bakar minyak (BBM), serta ongkos distribusi antardaerah. Kenaikan harga BBM non-subsidi, misalnya, membuat ongkos kirim gabah dan beras meningkat. Semua komponen biaya tersebut mendorong harga beras dari penggilingan naik secara signifikan.
Gangguan Rantai Distribusi
Meski pemerintah mengklaim cadangan beras nasional melimpah, nyatanya distribusi dari gudang Bulog ke pasar tidak berjalan optimal. Beberapa pengamat menyoroti lemahnya pengawasan dalam rantai distribusi beras, terutama dari gudang ke pedagang grosir hingga eceran. Alhasil, stok yang melimpah di atas kertas tidak selalu berdampak pada kestabilan harga di lapangan.
Kontribusi terhadap Inflasi
Beras adalah komoditas strategis yang sangat mempengaruhi inflasi. Pada Juni 2025, kenaikan harga beras tercatat menyumbang inflasi sebesar 0,04% dari total inflasi 0,19%. Ini menunjukkan bahwa tekanan harga beras cukup kuat dan dapat mengganggu kestabilan ekonomi jika tidak segera ditangani.
Baca berita lengkap dan terkini lainnya hanya di:Â https://gelanggangnews.com













