YOGYAKARTA– GelanggangNews.com
Masjid Jogokariyan, salah satu masjid paling aktif dan progresif di Indonesia, tengah menjadi sorotan publik. Bukan karena program sosialnya yang inspiratif seperti ATM beras dan kajian tematiknya, melainkan karena sejumlah akun media sosial resminya diblokir oleh raksasa platform digital seperti Meta (Instagram) dan YouTube.
Pemblokiran ini memicu perdebatan soal kebebasan berekspresi, standar moderasi konten global, dan dampaknya terhadap lembaga keagamaan yang aktif di ruang digital.
Awal Juni 2025, kanal YouTube resmi Masjid Jogokariyan dinonaktifkan tanpa pemberitahuan yang jelas. Dalam waktu bersamaan, akun Instagram @masjidjogokariyan dan beberapa akun afiliasinya seperti @remajamasjidjogokariyan dan akun program Ramadan juga ikut diblokir.
Menurut Sekretaris Takmir Masjid Jogokariyan, Haidar Muhammad, tidak ada pelanggaran serius yang dilakukan oleh pihaknya. Ia menduga, salah satu konten yang menjadi pemicu adalah wawancara dengan aktivis Palestina, Husein Gaza, yang membahas kondisi warga sipil di Gaza dan menyebut adanya tindakan genosida oleh Israel.
“Konten kami edukatif, religius, dan membangun solidaritas kemanusiaan. Tidak ada konten yang menyerukan kekerasan atau ekstremisme,” ujar Haidar.
Masjid Jogokariyan berdiri sejak tahun 1966 di Kampung Jogokariyan, Yogyakarta. Sejak awal, masjid ini hadir untuk menjadi pusat dakwah Islam yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Sejumlah program sosial dan keumatan menjadi ciri khas masjid ini, antara lain:
ATM beras untuk warga prasejahtera
Program Ramadan mandiri tanpa sponsor korporasi
Layanan klinik kesehatan dan perpustakaan
Transparansi dana masjid, dengan prinsip “Kas Masjid Nol Rupiah” tiap akhir tahun
Masjid Jogokariyan juga dikenal sebagai pelopor dalam pengelolaan manajemen masjid modern dan menjadi rujukan nasional bagi pengurus masjid di berbagai daerah.
Pemblokiran akun Masjid Jogokariyan mendapat perhatian luas dari publik, khususnya umat Muslim di Indonesia. Banyak netizen dan tokoh masyarakat mempertanyakan alasan pemblokiran dan meminta kejelasan dari pihak YouTube maupun Meta.
Di platform X (sebelumnya Twitter), muncul tagar seperti #SaveMasjidJogokariyan dan #UnblockJogokariyan sebagai bentuk dukungan. Sejumlah tokoh menyayangkan keputusan sepihak tersebut yang dianggap tidak adil dan berpotensi membungkam suara dakwah yang moderat.
“Jika dukungan terhadap Palestina dianggap melanggar kebijakan, maka perlu ditinjau ulang standar moderasi konten global. Jangan sampai solidaritas kemanusiaan disamakan dengan radikalisme,” tulis salah satu warganet.
Kasus pemblokiran Masjid Jogokariyan membuka kembali diskusi mengenai bagaimana algoritma dan sistem pelaporan massal dapat disalahgunakan untuk membungkam konten tertentu. Terlebih lagi, bila keputusan diambil tanpa proses klarifikasi atau ruang banding yang adil.
Pihak masjid menyatakan akan mengajukan banding resmi ke YouTube dan Meta, serta menyiapkan kanal baru sementara untuk tetap menyampaikan dakwah dan informasi kepada jamaah dan masyarakat umum.
Ikuti terus informasi hanya di GelanggangNews.com

