Zelensky Kirim Pasukan ke Turki dan Inggris, Ada Apa Gerangan?

Kyiv — Dunia internasional kembali menyorot langkah mengejutkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang memerintahkan pengiriman kontingen militernya ke dua negara sekutu utama, yakni Turki dan Inggris, pada pertengahan Oktober 2025. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Kementerian Pertahanan Ukraina dan memicu spekulasi luas mengenai tujuan strategis di balik pergerakan pasukan tersebut.

Menurut pernyataan resmi yang dirilis di Kyiv, pengiriman pasukan itu merupakan bagian dari “misi pelatihan dan kerja sama pertahanan” dalam kerangka aliansi strategis antara Ukraina, NATO, serta negara-negara mitra Eropa. Namun, sejumlah pengamat militer menilai bahwa langkah ini memiliki muatan politik dan keamanan yang lebih dalam, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Ukraina dan Rusia di wilayah Laut Hitam.

Sekitar 800 tentara Ukraina dikabarkan berangkat ke Turki untuk mengikuti latihan bersama pasukan NATO di pangkalan militer Izmir, sementara sekitar 500 personel lainnya diterjunkan ke Inggris guna memperkuat kerja sama militer dalam bidang taktik perang udara dan pertahanan siber. Latihan ini disebut sebagai bagian dari program Joint Shield 2025, yang melibatkan lebih dari sepuluh negara Eropa dan anggota NATO.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Ukraina, Kolonel Mykhailo Sobol, menyebutkan bahwa misi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukan Ukraina agar dapat beradaptasi dengan standar modern NATO. “Kami sedang memperkuat koordinasi dengan sekutu strategis untuk memastikan bahwa Ukraina memiliki posisi yang kokoh di kawasan Eropa Timur,” ujarnya.

Namun, langkah Zelensky ini menimbulkan beragam reaksi di dalam negeri. Beberapa anggota parlemen oposisi menilai keputusan tersebut terlalu berani dan berpotensi memperburuk hubungan dengan Moskow. Mereka menuduh pemerintah menggunakan dalih pelatihan militer untuk menutupi keterlibatan Ukraina dalam operasi keamanan yang lebih luas.

Sementara itu, analis geopolitik dari London School of Strategy, Dr. Anthony Reeves, menilai pengiriman pasukan Ukraina ke Inggris dan Turki bukan hanya sekadar latihan militer, melainkan bentuk diplomasi pertahanan yang bertujuan memperkuat posisi Kyiv di meja negosiasi internasional. “Zelensky sedang menunjukkan bahwa Ukraina tidak sendirian. Dukungan dari London dan Ankara memberi sinyal kuat kepada Rusia bahwa aliansi Barat masih solid,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah Turki menyambut baik kerja sama ini dan menyebutnya sebagai langkah nyata mempererat hubungan bilateral dengan Ukraina. Presiden Recep Tayyip Erdoğan dalam pernyataannya mengatakan bahwa latihan gabungan tersebut juga akan difokuskan pada pertahanan maritim dan pengamanan jalur energi di Laut Hitam — wilayah yang selama ini menjadi titik panas antara NATO dan Rusia.

Adapun Inggris, melalui Kementerian Pertahanannya, menyatakan bahwa pihaknya siap memberikan pelatihan lanjutan bagi pilot dan pasukan siber Ukraina untuk memperkuat kesiapan menghadapi ancaman global. London menilai, kerja sama ini adalah bentuk komitmen berkelanjutan terhadap stabilitas keamanan Eropa dan dukungan terhadap kedaulatan Ukraina.

Meski demikian, Kremlin menanggapi keras langkah tersebut. Juru bicara Rusia, Dmitry Peskov, menyebut pengiriman pasukan itu sebagai “provokasi terselubung” yang dapat memperburuk situasi geopolitik kawasan. Ia memperingatkan bahwa Moskow tidak akan tinggal diam jika aktivitas militer Ukraina di luar negeri terbukti mengancam kepentingan Rusia.

Hingga kini, pihak Ukraina belum memberikan rincian mengenai berapa lama pasukan mereka akan bertugas di kedua negara tersebut. Namun, sumber diplomatik di Kyiv menyebutkan bahwa latihan gabungan itu akan berlangsung setidaknya hingga akhir Desember 2025 dan bisa diperpanjang tergantung pada situasi keamanan regional.

Langkah Zelensky ini menegaskan bahwa Ukraina semakin memperkuat posisinya di kancah internasional, tidak hanya sebagai negara yang bertahan dari agresi, tetapi juga sebagai mitra aktif dalam sistem keamanan global. Dunia kini menunggu, apakah strategi ini akan memperkuat posisi Ukraina — atau justru memicu babak baru ketegangan dengan Rusia.


Selengkapnya kunjungi: www.gelanggangnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *