Washington, GELANGGANG NEWS – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mencuri perhatian publik internasional usai menyampaikan pernyataan mengejutkan dalam sebuah wawancara eksklusif pada Jumat (16/8). Dalam wawancara tersebut, Trump sebut Putin akan bertemu dengan Zelensky, sebuah pernyataan yang langsung memicu spekulasi tentang potensi pertemuan antara dua pemimpin dari negara yang tengah terlibat perang berkepanjangan, Rusia dan Ukraina.
Menurut Trump, informasi tersebut ia peroleh dari “sumber tingkat tinggi” di lingkaran diplomatik internasional. “Saya dengar Putin dan Zelensky bersiap untuk duduk bersama. Mungkin dalam beberapa bulan ke depan,” ujar Trump kepada jaringan media konservatif AS. Trump sebut Putin akan bertemu dengan Zelensky tanpa menyebutkan tanggal atau lokasi pasti, namun ia menegaskan bahwa langkah tersebut “sangat mungkin terjadi” bila kondisi keamanan memungkinkan.
Klaim Trump sebut Putin akan bertemu dengan Zelensky langsung menuai berbagai reaksi. Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi dari Kremlin maupun Kantor Kepresidenan Ukraina. Namun, sejumlah analis politik menilai bahwa kemungkinan pertemuan tersebut—meski kecil—tidak bisa sepenuhnya diabaikan, mengingat tekanan internasional yang terus meningkat untuk segera mengakhiri konflik Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung sejak 2022.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah negara netral seperti Turki, Tiongkok, dan Brasil diketahui telah menawarkan diri sebagai mediator damai. Jika benar Trump sebut Putin akan bertemu dengan Zelensky mengacu pada salah satu inisiatif tersebut, maka dapat menjadi sinyal awal adanya negosiasi di balik layar.
Duta Besar Ukraina untuk PBB, Sergiy Kyslytsya, saat ditanya mengenai pernyataan Trump, menanggapi dengan hati-hati. “Kami selalu membuka ruang dialog, tapi posisi Ukraina jelas: tidak ada kompromi atas wilayah dan kedaulatan kami,” ujarnya singkat.
Sementara itu, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, belum memberikan komentar resmi terkait kabar tersebut. Namun, dalam pernyataan sebelumnya, Rusia menyatakan bahwa dialog hanya bisa dilakukan jika ada “realitas politik baru yang diakui,” mengacu pada wilayah Ukraina yang diklaim telah dianeksasi oleh Moskow.

Pernyataan Trump sebut Putin akan bertemu dengan Zelensky juga menjadi bagian dari strategi politiknya menjelang pemilihan presiden AS 2024. Trump kerap menyatakan bahwa jika dirinya kembali memimpin, ia bisa “menghentikan perang Rusia-Ukraina dalam 24 jam.” Komentar ini kembali ia ulangi dalam wawancara tersebut, seraya menyinggung “kegagalan diplomatik pemerintahan Biden.”
Pengamat hubungan internasional dari Georgetown University, Prof. Michael Adley, mengatakan bahwa meskipun klaim Trump belum bisa diverifikasi, pernyataannya tetap berdampak secara politik dan diplomatik. “Setiap pernyataan tentang kemungkinan pertemuan Putin dan Zelensky akan menjadi sorotan, apalagi datang dari tokoh besar seperti Trump,” ujarnya.
Untuk informasi dan perkembangan terbaru seputar konflik Rusia-Ukraina serta kabar internasional lainnya, kunjungi www.gelanggangnews.com.

