Presiden AS Donald Trump dikabarkan frustrasi setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak permintaan AS untuk mendapatkan akses ke mineral langka Ukraina sebagai bentuk kompensasi atas bantuan militer selama perang dengan Rusia. Gedung Putih menilai kesepakatan ini sebagai peluang strategis bagi Ukraina, tetapi Zelensky dengan tegas menolak, menyatakan bahwa negaranya tidak bisa “dijual” demi kepentingan asing.
Ketegangan meningkat setelah pertemuan Zelensky dengan utusan AS, Keith Kellogg, di Kyiv. Meskipun pertemuan itu disebut produktif oleh pihak Ukraina, laporan BBC menyebutnya sebagai momen canggung yang diwarnai pembatalan konferensi pers mendadak oleh AS. Sejumlah pihak berspekulasi bahwa Kellogg telah “disingkirkan” dari negosiasi utama oleh Gedung Putih setelah pertemuan tersebut.

Di sisi lain, AS dan Rusia menggelar pembicaraan di Arab Saudi tanpa melibatkan Ukraina. Keputusan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa nasib Ukraina sedang dipertaruhkan dalam negosiasi antara dua kekuatan besar, tanpa partisipasi Kyiv. Trump bahkan menolak resolusi PBB yang menyebut Rusia sebagai agresor dalam perang ini, serta menyalahkan Zelensky atas konflik yang terjadi.
Dengan AS yang kini lebih memilih jalur negosiasi langsung dengan Rusia, Ukraina menghadapi tantangan besar. Kyiv harus menentukan langkah selanjutnya: tetap mempertahankan posisinya untuk menjaga kedaulatan nasional atau menerima kompromi yang berisiko mengurangi pengaruhnya dalam menentukan masa depannya sendiri.
Sumber: www.gelanggangnews.com












