Abdul Azis (58), seorang pedagang kopi keliling yang lebih dikenal dengan istilah “starling”, mengungkapkan rasa syukurnya karena kini ia sudah bebas dari jeratan utang. Sebelumnya, saat bekerja sebagai anggota Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di Kalibata, Azis sering kali menghabiskan gajinya tanpa pertimbangan matang, yang akhirnya membuatnya terjebak dalam utang.
“Kadang-kadang, gaji yang besar malah membuat kami terperangkap dalam berbagai kebutuhan. Untuk ini dan itu, jadi kami menambah utang,” ujar Azis saat ditemui di kawasan Warung Jati Barat, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan Meski pendapatannya sebagai pedagang kopi keliling jauh lebih kecil, Azis merasa hidupnya kini lebih tenang dan bebas dari kekhawatiran tentang utang.
Selama dua tahun menjadi pedagang kopi keliling, Azis mampu menghasilkan pendapatan kotor antara Rp 100.000 hingga Rp 150.000 setiap hari. Penghasilan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk istri dan dua anak laki-lakinya yang masih bersekolah.
“Semenjak menjalani usaha ini, Alhamdulillah, saya sudah terbebas dari utang. Hanya menyisakan cicilan utang lama yang harus diselesaikan. Gaji yang besar dulu malah membuat banyak kebutuhan datang,” tambah Azis. Saat bekerja di PPSU, Azis merasa penghasilannya sudah cukup besar dan terkadang tidak memikirkan dampak jangka panjang. Untuk membantu istrinya membuka usaha, ia meminjam uang, namun usaha tersebut tidak bisa bertahan karena kekurangan modal. Untuk membayar utangnya, Azis terpaksa menjual motor dan menggadaikan sertifikat tanah. Saat ini, utang yang tersisa kurang dari Rp 50 juta.

“Utang motor saya bayar, sertifikat tanah saya gadaikan. Setelah itu, saya jual motor lagi untuk menebus sertifikat tanah tersebut,” ungkapnya. Meski pernah mengalami kesulitan, Azis tetap merasa bersyukur karena Tuhan masih memberinya rezeki dan tenaga untuk bekerja.
Azis memulai usaha kopi keliling dua tahun lalu setelah pensiun dari PPSU. Meskipun pendapatan harian sebagai pedagang kopi keliling hanya sekitar Rp 100.000 hingga Rp 150.000, ia merasa lebih bersyukur meskipun ada pengurangan yang signifikan dibandingkan gaji sebelumnya. Setelah dipotong biaya operasional, ia hanya membawa pulang sekitar Rp 50.000 setiap hari.
Pendapatan Azis sangat bergantung pada kondisi cuaca. Ketika hujan, penghasilannya bisa turun drastis, bahkan hanya mencapai Rp 20.000 atau Rp 10.000 per hari. Hal ini tentu menjadi tantangan besar, terutama untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang masih bersekolah di tingkat SMK dan SD. “Kadang ada kebutuhan mendadak, seperti uang untuk kegiatan sekolah anak. Kalau seperti itu, kadang bingung mau cari uang dari mana,” katanya.
Meski menghadapi berbagai rintangan, Azis tetap optimis dan tidak pernah berhenti bersyukur. Ia telah belajar untuk hidup dengan sederhana dan tidak terjebak dalam utang lagi. Dengan segala keterbatasan yang ada, Azis berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya.
Sumber: www.gelanggangnews.com







