Metode autentikasi menggunakan SMS One-Time Password (OTP) semakin dipertanyakan keamanannya di tengah meningkatnya kejahatan siber, khususnya melalui teknik rekayasa sosial (social engineering). Para ahli keamanan siber menyebut bahwa SMS OTP kini tak lagi memadai dalam melindungi akun dari serangan Account Takeover (ATO).
CEO Grup VIDA, Niki Luhur, mengungkapkan bahwa lebih dari 90% insiden peretasan akun terjadi karena lemahnya keamanan SMS OTP. “Bukan berarti metode ini tidak berguna sama sekali, tetapi untuk perlindungan yang lebih kuat, standar keamanan harus ditingkatkan,” ujar Niki dalam sebuah diskusi di Jakarta.
Menurut laporan yang dirilis VIDA, 97% perusahaan di Indonesia mengalami pengambilalihan akun dalam setahun terakhir, dengan phishing dan smishing (penipuan melalui SMS) sebagai penyebab utama. 98% perusahaan mengalami masalah autentikasi, tetapi hanya segelintir yang mencari solusi pengamanan yang lebih baik.

Salah satu alasan meningkatnya ATO adalah kemudahan mendapatkan perangkat lunak berbahaya. “Saat ini, malware dapat diperoleh dengan harga hanya Rp500 ribu dan digunakan berkali-kali untuk menipu banyak korban,” jelas Niki. Dengan biaya yang terjangkau, penjahat siber dapat mengakses informasi pribadi dan mengambil alih akun dengan mudah.
Sebagai respons terhadap ancaman ini, VIDA memperkenalkan VIDA Authentication Suite, yang menawarkan solusi autentikasi lebih aman dibandingkan SMS OTP. Solusi ini mencakup:
Phone Token – Sistem autentikasi berbasis kriptografi yang langsung terhubung ke perangkat pengguna, sehingga menghilangkan risiko pencurian kode OTP melalui SMS.
Face Token – Menggunakan teknologi biometrik wajah dengan deteksi keaktifan untuk memastikan hanya pemilik akun yang dapat mengaksesnya.
Seiring meningkatnya ancaman siber, sudah saatnya perusahaan dan individu beralih ke metode autentikasi yang lebih aman untuk menjaga keamanan data dan akun digital mereka.
Sumber : www.gelanggangnews.com












