Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengecam aksi kekerasan yang menimpa dua perempuan Muslim di sebuah pusat perbelanjaan di Melbourne pada 13 Februari lalu. Ia menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang “sangat tercela” dan menegaskan bahwa pemerintahnya tidak menoleransi segala bentuk diskriminasi berbasis agama.
Kepolisian Victoria melaporkan bahwa seorang perempuan diduga menyerang dua korban yang berusia 30 dan 26 tahun. Akibat insiden tersebut, keduanya mengalami luka, meski tidak dalam kondisi yang mengancam nyawa. Tersangka telah ditangkap dan akan dihadapkan ke Pengadilan Magistrat Melbourne untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Dalam pernyataannya, Albanese menegaskan bahwa segala bentuk diskriminasi, termasuk Islamofobia dan anti-Semitisme, diperlakukan dengan serius oleh pemerintah. Ketika ditanya apakah pemerintah akan bertindak lebih cepat jika insiden tersebut merupakan serangan anti-Semitik, ia menegaskan bahwa kekerasan terhadap siapa pun atas dasar keyakinan mereka adalah hal yang tidak dapat diterima.

Sebelumnya, Albanese dikritik karena dianggap lamban dalam mengutuk insiden ini, terutama jika dibandingkan dengan respons cepat pemerintah terhadap serangkaian insiden anti-Semitisme dalam beberapa bulan terakhir. Pasca serangan Israel ke Gaza pada Oktober 2023, sejumlah insiden anti-Semitik terjadi di Australia, seperti pembakaran fasilitas penitipan anak di Sydney, pelemparan bom molotov ke sebuah sinagoge di Melbourne, dan vandalisme dengan grafiti bernada kebencian terhadap komunitas Yahudi.
Di sisi lain, Federasi Dewan Islam Australia menyatakan keprihatinannya terhadap meningkatnya serangan terhadap komunitas Muslim di negara tersebut. Presiden federasi, Rateb Jneid, menyebut tanggapan pemerintah terhadap insiden ini masih belum memadai dan menunjukkan adanya ketimpangan dalam menangani berbagai bentuk diskriminasi berbasis agama.
Duta Besar Australia untuk Penanggulangan Islamofobia, Aftab Malik, juga menyerukan kepada para pemimpin politik untuk bersikap lebih tegas dalam mengecam serangan tersebut serta berupaya menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi umat Muslim di Australia.
Sementara itu, pemain kriket Australia, Usman Khawaja, menyoroti insiden ini di media sosial dan menyebut bahwa kasus-kasus kekerasan terhadap komunitas Muslim kerap tidak mendapat perhatian yang cukup. Meski demikian, ia tetap mengapresiasi pernyataan Albanese serta pemimpin oposisi yang akhirnya angkat suara terkait insiden ini.
Sumber: www.gelanggangnews.com










